Sumbawanews.com,- Delegasi Iran mendadak meninggalkan ruang perundingan di Swiss pada Minggu (21/6), menyusul ancaman keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjanjikan serangan lebih dahsyat jika Teheran tidak menghentikan dukungannya terhadap Hizbullah di Lebanon. Kepulangan mendadak para diplomat Iran itu terjadi tepat saat pembicaraan damai dengan AS—yang dipantau oleh Qatar sebagai mediator—baru saja dimulai.
Menurut laporan kantor berita resmi Iran, IRNA, para delegasi keluar dari lokasi negosiasi setelah bertemu dengan perwakilan Doha. Namun, sumber diplomatik yang mengetahui jalannya pembicaraan memberi catatan berbeda: Iran belum secara resmi menarik diri dari proses damai. “Mereka tetap terlibat dan belum menyampaikan niat untuk pergi kepada para mediator,” ujar salah satu sumber kepada AFP, dengan syarat anonim.
Ancaman Trump disampaikan lewat unggahan di platform X, di mana ia menegaskan: “Iran harus segera menghentikan PROKSI mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan pekan lalu, bahkan lebih keras lagi!!!”
Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi kekerasan antara Hizbullah dan Israel, yang menggagalkan upaya stabilisasi di kawasan—padahal AS dan Iran baru saja menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada 17 Juni lalu. MoU itu mencakup komitmen untuk menghentikan semua bentuk konflik bersenjata, termasuk di Lebanon, serta membuka kembali Selat Hormuz yang sempat ditutup Iran pasca-serangan AS-Israel pada Februari.
Namun, baru beberapa hari setelah MoU ditandatangani, Iran kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan udara Israel terhadap target Hizbullah di selatan Lebanon. Langkah ini dinilai sebagai ujian serius terhadap kepercayaan yang sedang dibangun antara Washington dan Teheran.
Ketua Parlemen Iran dan kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, merespons ancaman Trump dengan nada tegas: “Sebaiknya mereka hati-hati dengan pernyataan mereka. Angkatan bersenjata kami siap menanggapi dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang bertindak.”
Perundingan di Swiss sendiri merupakan upaya lanjutan dari kesepakatan awal yang dicapai setelah serangkaian serangan balas-membalas antara Iran, Israel, dan AS sejak Februari. Kedua pihak berharap bisa menerjemahkan MoU menjadi langkah konkret—namun ancaman verbal Trump berpotensi menghancurkan fondasi yang baru saja dibangun.
Sementara itu, Qatar, yang berperan sebagai mediator, berupaya meredam ketegangan dengan menggelar pertemuan tertutup antara delegasi Iran dan perwakilan AS. Namun, keputusan Iran untuk meninggalkan ruang perundingan—meski belum resmi menarik diri—menandai titik balik kritis dalam upaya perdamaian yang rapuh ini.
Dengan AS yang kembali mengandalkan retorika militer dan Iran yang menegaskan sikapnya lewat tindakan, masa depan kesepakatan damai antara dua negara yang telah berseteru selama puluhan tahun kini bergantung pada kemampuan para mediator untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.















