Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyampaikan permintaan maaf resmi pemerintah kepada komunitas Maluku atas penelantaran dan ketidakadilan yang mereka alami selama lebih dari tujuh dekade. Permintaan maaf itu disampaikan secara langsung di hadapan ratusan warga Maluku dan keturunannya saat peresmian Monumen Ulu Kora di Lloydkade, Rotterdam, pada Minggu, 20 Juni 2026.
Monumen berbentuk haluan kapal tradisional Maluku itu berdiri di lokasi yang sama tempat kapal-kapal pertama membawa sekitar 12.500 warga Maluku ke Belanda pasca-kemerdekaan Indonesia pada 1949. Mereka dibawa dengan janji bahwa kehadiran mereka di Eropa bersifat sementara—hanya sampai situasi di tanah air stabil. Namun, janji itu tak pernah ditepati.
Banyak dari mereka adalah mantan prajurit yang pernah bertempur bersama tentara kolonial Belanda dalam perang melawan gerakan kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, mereka dianggap sebagai “musuh negara” oleh pemerintah baru di Jakarta, sekaligus diabaikan oleh Belanda yang tak ingin mengembalikan mereka ke tanah leluhur. Tanpa dukungan sosial, tanpa akses pekerjaan yang layak, dan tanpa kepastian identitas, mereka dipaksa hidup dalam kondisi memprihatinkan—bahkan sebagian ditempatkan di bekas kamp konsentrasi Nazi yang pernah digunakan untuk menahan warga Yahudi.
“Kami gagal memberi Anda tempat tinggal yang layak. Kami gagal mendengar kerinduan Anda pada kampung halaman. Kami gagal memenuhi janji yang telah kami buat,” kata Jetten dalam pidatonya yang penuh emosi. “Atas duka, penderitaan, dan ketidakadilan yang Anda alami—atas nama pemerintah Belanda, saya meminta maaf.”
Pidato itu disambut dengan air mata dan diam yang berat. Di antara hadirin, banyak yang memegang foto orang tua atau kakek-nenek yang tak pernah kembali ke Maluku, dan tak pernah benar-benar merasa dianggap sebagai bagian dari masyarakat Belanda. Generasi kedua, yang tumbuh dalam ketidakpastian dan sering kali mengalami diskriminasi, bahkan pernah melakukan aksi kekerasan pada 1970-an sebagai bentuk protes terhadap pengkhianatan yang mereka rasakan.
Jetten mengakui bahwa permintaan maaf tidak bisa mengubah masa lalu. “Kita tidak bisa mengembalikan waktu. Tapi kita bisa mengakui kesalahan, dan memulai proses penyembuhan,” ujarnya. Ia menjanjikan langkah nyata selanjutnya: peningkatan dukungan sosial, pendidikan sejarah yang lebih jujur di sekolah-sekolah Belanda, dan upaya memperkuat hubungan budaya antara Belanda dan Maluku.
Monumen Ulu Kora, yang dibangun dengan partisipasi aktif komunitas Maluku, bukan sekadar tugu peringatan. Ia menjadi simbol ketahanan, pengakuan, dan harapan—bahwa sejarah yang kelam bisa dihadapi dengan keberanian, dan bahwa keadilan sejati dimulai dari kejujuran.
Di ujung pidatonya, Jetten menatap para hadirin dan berkata: “Anda bukan tamu. Anda adalah bagian dari sejarah Belanda. Dan kami berhutang pada Anda.”















