Sumbawanews.com,- Provinsi Lampung resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVIII pada tahun 2029, menyusul pemungutan suara mayoritas mutlak oleh para delegasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di tengah gelaran Penas XVII di Gorontalo. Dengan raihan 29 suara, Lampung unggul jauh atas Sumatera Utara yang memperoleh lima suara dan Sulawesi Tengah yang hanya mendapat satu suara.
Keputusan ini dikukuhkan dalam Rembug Utama KTNA pada 19 Juni 2026 di Gedung Olahraga David Tony, Universitas Gorontalo, sehari sebelum pembukaan resmi Penas XVII yang dihadiri Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka. Dalam sambutannya, Gibran menegaskan bahwa kemandirian pangan bukan sekadar target, melainkan kebutuhan strategis di tengah ketidakpastian geopolitik, perang dagang, dan gangguan rantai pasok global. “Petani dan nelayan adalah garda terdepan. Kita tidak boleh bergantung pada impor saat dunia sedang berkonflik,” tegasnya.
Mewakili Gubernur Lampung, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Elvira Umihanni menyampaikan apresiasi atas kepercayaan nasional tersebut. Ia menekankan bahwa Lampung siap menyelenggarakan ajang bergengsi ini dengan infrastruktur yang semakin matang: Jalan Tol Trans Sumatera yang menghubungkan seluruh wilayah, bandara dan pelabuhan yang terintegrasi dengan Jakarta, serta ketersediaan akomodasi dan fasilitas penunjang yang memadai untuk menampung ribuan peserta dari 34 provinsi.
Tak hanya soal logistik, Lampung juga menawarkan potensi agraris yang tak terbantahkan. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, daerah ini menghasilkan komoditas strategis seperti padi, kopi, lada, dan hasil laut yang menjadi andalan ekspor. Penas 2029 diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan inovasi pertanian dan perikanan lokal, sekaligus mendorong investasi di sektor hilir—mulai dari pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi.
Selama Penas XVII, para petani dan nelayan dari berbagai daerah menyampaikan sejumlah aspirasi krusial: perbaikan jaringan irigasi, penanganan pendangkalan pelabuhan, kelancaran distribusi BBM bagi nelayan, dan ketersediaan mesin pengering serta Rice Milling Unit (RMU). Wapres Gibran langsung menanggapi dengan instruksi tegas kepada kementerian terkait untuk segera menindaklanjuti permintaan tersebut, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas harus diiringi dengan tata kelola yang adil dan berkelanjutan.
Dengan terpilihnya Lampung, ajang ini bukan sekadar perhelatan teknis, tapi menjadi simbol pengakuan nasional atas peran strategis provinsi ini dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia. Pemerintah daerah optimistis, penyelenggaraan Penas 2029 akan memperkuat posisi Lampung sebagai pusat pertanian dan kelautan berkelanjutan, sekaligus menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan pariwisata berbasis agraria di Sumatera.















