Home Berita Nasional Pulang Haji, Tapi Masih Berhutang

Pulang Haji, Tapi Masih Berhutang

Sumbawanews.com,- Di tengah kebahagiaan pulang dari tanah suci, seorang jamaah haji asal Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, harus menghadapi realita pahit: utang yang belum lunas setelah menunaikan rukun Islam kelima. Namanya, Suharto (68), pensiunan guru SD yang selama dua dekade menabung demi bisa berangkat haji bersama istrinya. Namun, setelah menghabiskan seluruh tabungan dan bahkan meminjam uang dari kerabat, ia kini masih memiliki kewajiban sebesar Rp18 juta kepada lembaga keuangan syariah.

“Saya tidak menyangka biaya di sana jauh lebih tinggi dari perkiraan,” ujar Suharto, duduk di teras rumahnya yang sederhana, sambil memegang tas jemaah yang masih berisi buku doa dan air zam-zam. Ia mengaku, biaya akomodasi di Mekah dan Madinah melebihi anggaran yang ia siapkan. Selain itu, ia juga membeli oleh-oleh untuk keluarga dan tetangga, serta membayar biaya tambahan untuk pelayanan kesehatan saat mengalami gangguan pencernaan selama di tanah suci.

Istrinya, Siti Aminah (65), yang ikut menunaikan haji, mengaku sempat menangis saat melihat tagihan akhir. “Kami pikir cukup dengan tabungan selama 20 tahun. Tapi ternyata, biaya hidup di sana seperti di negara maju. Bahkan minum air kemasan saja harus bayar,” katanya sambil menatap foto-foto perjalanan yang tergantung di dinding ruang tamu.

Kisah Suharto bukan satu-satunya. Data Kementerian Agama menyebut, dari 1,03 juta jamaah haji tahun 2023, sekitar 12% mengaku mengalami kesulitan finansial setelah pulang, dengan rata-rata utang sebesar Rp15 juta hingga Rp25 juta. Sebagian besar berasal dari kelompok jamaah reguler, bukan kloter khusus atau yang mendapat bantuan pemerintah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Tangerang Selatan, H. Ahmad Fauzi, mengakui adanya kesenjangan antara estimasi biaya dan realitas di lapangan. “Kami sudah berikan panduan, tapi banyak jamaah yang tidak membaca dengan seksama, atau tergoda membeli hal-hal non-esensial demi memenuhi harapan keluarga,” ujarnya. Ia menambahkan, pihaknya kini sedang menyusun program edukasi keuangan haji yang lebih intensif, termasuk konseling finansial sebelum keberangkatan.

Suharto, yang kini bekerja paruh waktu sebagai penjaga masjid, berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran. “Saya tidak menyesal pergi haji. Tapi saya ingin orang lain tahu: haji itu ibadah, bukan pamer. Jangan sampai karena ingin terlihat ‘lengkap’, kita malah membebani diri dan keluarga,” ujarnya, sambil menatap langit yang mulai gelap. Di kejauhan, suara azan Maghrib berkumandang, mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan pada seberapa banyak yang kita bawa pulang, tapi seberapa ikhlas kita memberi.

Previous articleDamai AS-Iran Tertunda, Lebanon Digempur Hebat
Next articleNU Bukan Arena Politik, Cak Imin Tegaskan Ini
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.