Home Serba Serbi Tekno Gunung Anak Krakatau Tanda-Tanda Aktivitas Meningkat

Gunung Anak Krakatau Tanda-Tanda Aktivitas Meningkat

Sumbawanews.com,- Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir, dengan sejumlah indikator geofisika dan geokimia memperkuat kekhawatiran akan potensi erupsi. Badan Geologi memantau ketat pergerakan magma di bawah permukaan, meskipun status gunung api tetap pada level II—Waspada.

Menurut pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, gejala magmatisme permukaan mulai terlihat jelas sejak awal Juni 2026. Satelit Sentinel mencatat emisi gas sulfur dioksida (SO₂) yang meningkat dan anomali suhu di sekitar kawah. Pada 10 Juni, titik api muncul di dasar kawah, disertai asap tebal yang terus-menerus membubung. Puncaknya, pada 18–19 Juni, frekuensi gempa vulkanik dangkal melonjak hingga lebih dari 50 kali per hari—terdiri dari gempa embusan, gempa hibrida, dan gempa frekuensi rendah—yang menandakan pergerakan magma yang semakin dekat ke permukaan.

“Meskipun tidak ada peningkatan gempa dalam atau deformasi tanah, pola gempa dangkal ini adalah tanda klasik bahwa magma sedang bergerak aktif di zona dangkal,” jelas Lana dalam keterangan resmi pada Minggu dinihari, 21 Juni 2026.

Ancaman utama jika terjadi erupsi mencakup awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Untuk itu, Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan agar tidak memasuki zona radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Wilayah pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang dan tidak terpancing isu tsunami yang tidak berdasar. Pihak berwenang menegaskan, tidak ada indikasi pergerakan tubuh gunung yang bisa memicu longsoran besar seperti pada Desember 2018 silam, yang sempat menimbulkan tsunami mematikan.

Gunung Anak Krakatau, yang lahir dari sisa letusan dahsyat Krakatau 1883, terus tumbuh melalui serangkaian erupsi kecil sejak 2018. Setelah periode intensif pembangunan tubuh gunung hingga Desember 2023, aktivitasnya sempat menurun. Namun, sejak awal Juni ini, energi magmatik kembali bangkit—bukan dalam skala besar, tapi cukup mengkhawatirkan untuk diabaikan.

Pemantauan dilakukan dari dua pos pengamatan: di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Serang, Banten. Data terus dikirim ke pusat di Bandung, di mana tim geologis menganalisis setiap perubahan kecil sebagai tanda peringatan dini.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda diminta tetap waspada, tetapi tidak panik. Informasi resmi hanya dikeluarkan oleh Badan Geologi dan BPBD setempat. “Kami tidak ingin masyarakat terjebak dalam hoaks, tapi juga tidak ingin ada yang meremehkan tanda-tanda alam,” tegas Lana.

Dengan sejarahnya yang penuh kekuatan, Gunung Anak Krakatau tetap menjadi salah satu gunung api paling dipantau di dunia—bukan hanya karena potensi bahayanya, tapi juga karena ia menjadi laboratorium alam yang langka dalam mempelajari bagaimana gunung api bangkit dari reruntuhan.

Previous articleJakarta Tiru Pilah Sampah, Zulhas Minta Daerah Ikut
Next articleTasyakuran Sepulang Haji, Akar Budaya Nusantara
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.