Sumbawanews.com,- Jakarta – Bagi penggemar teknologi wearable, smartwatch bukan sekadar aksesori, tapi alat kesehatan yang andal. Namun, bagi mereka yang memilih menghiasi pergelangan tangan dengan tato, kecanggihan perangkat ini bisa berubah jadi tantangan tak terduga.
Sensor detak jantung yang menjadi tulang punggung fitur kesehatan pada jam pintar—baik itu Apple Watch, Garmin, maupun Huawei—mengandalkan teknologi photoplethysmography (PPG). Cara kerjanya sederhana: lampu LED hijau memancarkan cahaya ke kulit, lalu mendeteksi perubahan aliran darah melalui pantulan cahaya. Tapi ketika tinta tato menghiasi area itu, pigmen gelapnya justru menyerap atau memantulkan cahaya secara tidak konsisten. Hasilnya? Pembacaan detak jantung jadi acak, bahkan gagal total.
Masalah ini bukan sekadar keluhan sepi di forum teknologi. Produsen besar pun mengakui keterbatasannya. Garmin secara terbuka menyatakan bahwa “tato—baik warna, pola, maupun kepadatannya—dapat menghalangi cahaya sensor, menyebabkan pembacaan tidak akurat atau hilang.” Apple, sejak generasi pertama Apple Watch, sudah menyarankan pengguna untuk memakai perangkat di area kulit yang bebas tato.
Tak hanya detak jantung, fitur *wrist detection*—yang memungkinkan layar menyala saat pergelangan diangkat—juga ikut terganggu. Sensor gagal mendeteksi keberadaan jam karena tinta mengubah tekstur dan reflektivitas kulit. Akibatnya, pengguna harus terus memasukkan PIN atau password setiap kali ingin melihat notifikasi. Ironisnya, teknologi yang mampu memantau tidur, stres, hingga oksigen darah, tunduk pada satu lapisan tinta.
Tak ada solusi baku dari pabrikan, sehingga pengguna pun berkreasi. Beberapa memilih memakai jam di sisi dalam pergelangan—area yang lebih jarang ditato. Ada pula yang beralih ke tangan sebelahnya. Trik “selotip bening” atau stiker epoksi di atas sensor pun sempat viral di komunitas, meski belum terbukti secara ilmiah. Bagi yang serius memantau kesehatan, opsi terbaik tetap menggunakan sabuk dada khusus deteksi detak jantung—asalkan dada juga tak bertato.
Studi tahun 2025 yang membandingkan akurasi sensor di kulit bertato dan kulit polos menunjukkan hasil bervariasi. Gangguan paling parah terjadi saat tubuh dalam keadaan istirahat. Saat bergerak—terutama saat olahraga—akurasi cenderung membaik, mungkin karena aliran darah yang lebih dinamis membantu mengatasi gangguan optik.
Kondisi ini juga mengungkap ketimpangan dalam pengembangan teknologi kesehatan. Sensor berbasis cahaya, yang sama-sama kurang akurat pada kulit gelap, justru paling rentan terhadap variasi pigmen. Ini menjadi pengingat penting: inovasi teknologi harus inklusif, bukan hanya untuk mereka yang punya kulit “ideal” menurut standar sensor.
Kabar baiknya, beberapa produk terbaru seperti Google Pixel Watch 4 mulai menunjukkan peningkatan signifikan dalam akurasi di atas tato. Ini menandakan bahwa produsen mulai menyadari bahwa kesehatan digital tak bisa mengabaikan keberagaman manusia.
Sampai teknologi sensor benar-benar mampu “membaca” kulit dalam segala bentuknya—baik polos, gelap, atau bertato—pengguna yang ingin menjaga kesehatan sekaligus mengekspresikan diri lewat seni rajah harus tetap berkompromi. Mungkin, satu-satunya solusi paling jujur adalah: pilih tato di tempat yang tak akan pernah dipakai untuk menempelkan jam pintar.















