Sumbawanews.com,- Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta pemerintah daerah seluruh Indonesia meniru program pemilahan sampah yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menilai inisiatif itu bukan sekadar kebijakan lingkungan, tapi keharusan strategis untuk menyelamatkan masa depan ekosistem nasional.
Pernyataan itu disampaikan Zulhas usai menghadiri Apel Siaga Jaga Jakarta Pilah Sampah di Monas, Jakarta, Minggu (21/6/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa TPA Bantargebang di Bekasi—yang selama ini menjadi tempat pembuangan akhir sampah ibu kota—tidak lagi bisa dibiarkan beroperasi dengan cara open dumping. “Open dumping sudah dilarang. Bantar Gebang akan ditutup. Tidak ada lagi ruang untuk kompromi,” tegasnya.
Zulhas menegaskan, pelanggaran terhadap aturan pengelolaan sampah akan berujung pada sanksi tegas sesuai undang-undang. “Kalau masih ada daerah yang membiarkan sampah menumpuk sembarangan, ya akan kena penalti. Ini bukan soal administrasi, tapi soal kesehatan publik dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Ia menyoroti dampak jangka panjang sampah yang tak dikelola dengan baik: polusi udara, pencemaran tanah, hingga risiko kesehatan akibat mikroplastik yang bisa memicu kanker. “Sampah bukan sekadar tumpukan sampah. Ia adalah bom waktu yang sedang berdetak,” kata Zulhas.
Program pilah sampah di DKI Jakarta, yang digagas Gubernur Pramono Anung, dinilai Zulhas sebagai contoh cepat dan efektif. “Saya sudah perintahkan deputi saya untuk meniru model ini. Tidak perlu repot-repot membuat sistem baru. Ambil saja yang sudah terbukti berhasil,” ujarnya.
Lebih jauh, Zulhas mengungkap rencana timnya untuk memperluas program ini ke sejumlah provinsi. “Kami akan ke Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, lalu Sumatera, dan pulau-pulau lainnya. Ini bukan hanya soal Jakarta. Ini soal Indonesia,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa pendekatan yang dibutuhkan adalah kombinasi antara “stick and carrot”—teguran tegas dan insentif positif. “Kalau tidak dipaksa, tidak akan berubah. Tapi kalau ada contoh nyata yang berhasil, orang akan ikut. Kita harus jadi pelopor, bukan pengekor.”
Program pilah sampah di Jakarta, yang melibatkan partisipasi masyarakat, RT/RW, hingga sekolah, dianggap sebagai model yang bisa direplikasi dengan adaptasi lokal. Zulhas menambahkan, pemerintah pusat siap memberikan dukungan teknis dan anggaran bagi daerah yang serius menerapkannya.
Dengan target penutupan Bantargebang dalam beberapa tahun ke depan dan rencana konversi sampah menjadi energi pada 2028, Zulhas menegaskan: “Sampah bukan akhir, tapi awal dari energi baru. Jakarta bisa jadi penerang, bukan penumpuk sampah.”















