Sumbawanews.com,- Sejak pagi hari Minggu, 21 Juni 2026, serangan udara dan artileri Israel meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Lebanon, menewaskan sedikitnya 32 orang—sebagian besar warga sipil—dan melukai puluhan lainnya. Serangan masif ini terjadi meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah masih berlaku secara resmi, memperdalam kekhawatiran akan meledaknya konflik regional yang lebih luas.
Menurut sumber resmi Lebanon, serangan terpusat di daerah perbatasan selatan, termasuk kota Marjayoun dan wilayah Qana, di mana rudal dan bom presisi tinggi menghantam permukiman, rumah sakit sementara, dan kendaraan evakuasi. Korban tewas mencakup perempuan, anak-anak, dan petugas medis yang berusaha menyelamatkan korban di lokasi serangan.
Pihak militer Israel belum memberikan pernyataan resmi tentang target spesifik serangan tersebut, tetapi sebelumnya menyatakan bahwa operasi mereka bertujuan untuk “menghancurkan infrastruktur militer Hezbollah” yang dituding menyembunyikan senjata di tengah pemukiman sipil. Namun, organisasi kemanusiaan seperti UNICEF dan Palang Merah Internasional mengecam serangan itu sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional, mengingat tingginya jumlah korban sipil.
Di Beirut, ribuan warga berbondong-bondong meninggalkan daerah pinggiran selatan, sementara rumah sakit di ibu kota kewalahan menangani korban luka. Pemerintah Lebanon telah memanggil duta besar PBB untuk mengajukan protes resmi dan mendesak komunitas internasional untuk segera menghentikan “agresi berulang” Israel.
Sementara itu, Iran—sekutu utama Hezbollah—menyatakan bahwa serangan itu adalah “pernyataan perang terbuka” dan mengancam akan membalas dengan cara yang “tidak bisa diabaikan.” Di tengah ketegangan yang memanas, selat Hormuz kembali ditutup sementara oleh Iran, memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
Dengan kematian 32 jiwa dalam satu hari, insiden ini menjadi salah satu serangan paling mematikan di Lebanon sejak gencatan senjata yang disepakati pada awal Juni. Dunia kini menanti respons dari Amerika Serikat dan sekutu Eropa, yang sejauh ini hanya mengeluarkan pernyataan “keprihatinan mendalam,” tanpa tindakan konkret untuk menghentikan eskalasi.















