Sumbawanews.com,- Jakarta — Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengajukan permohonan dana sebesar 94 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp1.424 triliun, kepada Kongres guna menutupi defisit anggaran akibat potensi konflik bersenjata dengan Iran. Permintaan ini diajukan dalam konteks meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangan balasan terhadap fasilitas militer Iran yang dilaporkan tengah dipertimbangkan sebagai respons terhadap ancaman terhadap kepentingan AS dan sekutunya di wilayah tersebut.
Dalam dokumen yang diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat AS, Departemen Pertahanan menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat kapasitas militer, membeli amunisi strategis, memperbarui sistem pertahanan udara, serta mendukung operasi logistik di pangkalan-pangkalan di Timur Tengah. Angka ini belum termasuk biaya operasional jangka panjang atau kompensasi bagi prajurit yang terlibat, yang diperkirakan akan menambah beban anggaran hingga puluhan miliar dolar lebih.
Permintaan ini muncul di tengah tekanan politik di dalam negeri AS, di mana sebagian anggota Kongres mempertanyakan urgensi pendanaan besar-besaran untuk konflik yang belum terjadi. Namun, para pejabat pertahanan menekankan bahwa kesiapan militer bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan strategis. “Kita tidak bisa menunggu ancaman menjadi nyata baru bergerak,” ujar seorang pejabat tinggi Pentagon yang meminta tidak disebutkan namanya.
Iran sendiri belum secara resmi mengumumkan niat untuk memulai perang, tetapi telah meningkatkan kesiapan militer, termasuk uji coba rudal balistik dan penempatan pasukan di perbatasan dengan Irak dan Suriah. Sementara itu, AS terus memperkuat kehadiran militer di Teluk Persia, dengan mengerahkan kapal induk, pesawat tempur generasi kelima, dan sistem pertahanan rudal Patriot dan THAAD.
Analisis keamanan dari lembaga think tank di Washington memperingatkan bahwa jika konflik meletus, biaya yang dikeluarkan AS bisa melampaui angka yang diajukan, terutama jika melibatkan sekutu regional seperti Israel dan Arab Saudi. Dalam skenario terburuk, perang ini bisa memicu gangguan pasokan minyak global dan memicu inflasi yang berdampak pada perekonomian dunia.
Permintaan dana ini kini sedang dalam proses tinjauan mendalam oleh Komite Anggaran Kongres. Keputusan akhir diharapkan sebelum akhir tahun, seiring dengan meningkatnya tekanan dari kelompok militer dan lobi pertahanan yang menilai keterlambatan pendanaan sebagai risiko strategis yang tak bisa diabaikan.

















