Sumbawanews.com,- Jakarta – Frans Antony, kaki tangan gembong narkoba Fredy Pratama, ditangkap di Kuala Lumpur, Malaysia, setelah bersembunyi selama tiga tahun dengan berpindah-pindah lokasi di Thailand. Penangkapan ini dilakukan oleh tim Dittipid Narkoba Bareskrim Polri yang bekerja sama dengan otoritas setempat.
Menurut Kepala Dittipid Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, Frans tidak hanya melarikan diri, tetapi menjalani strategi pelarian yang terorganisir. Ia didampingi oleh sejumlah orang kepercayaan Fredy Pratama yang berkewarganegaraan Thailand, yang membantunya berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain di Thailand—mulai dari Phatthanakan hingga akhirnya menetap selama dua tahun di Narasiri.
“Frans Antony adalah pengendali keuangan jaringan Fredy Pratama. Dia tidak hanya buron, tapi juga menjadi tulang punggung operasional keuangan jaringan narkoba yang tersebar di Jawa dan Kalimantan,” ujar Eko dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Perjalanan pelarian Frans berakhir ketika ia masuk ke Malaysia secara ilegal, dengan bantuan jaringan yang sama. Tim Bareskrim, berkoordinasi dengan kepolisian Malaysia, berhasil melacak keberadaannya dan menangkapnya tanpa perlawanan di ibu kota Kuala Lumpur. Ia kini sudah tiba di Gedung Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Frans dan Fredy Pratama memiliki ikatan personal yang kuat: mereka adalah teman sekolah menengah di Kalimantan Selatan. Fredy, yang kini masih buron, memulai jaringan narkobanya dari Malang, Jawa Timur, sebelum memperluas operasinya ke berbagai wilayah, termasuk Banjarmasin dan Samarinda. Frans dipercaya mengelola arus dana, termasuk transaksi gelap yang melibatkan puluhan kilogram sabu yang berhasil diamankan dalam beberapa operasi sebelumnya.
Meski Frans telah ditangkap, Fredy Pratama masih berada di luar jangkauan hukum. Polisi terus memperluas jejak investigasi ke jaringan internasional yang diduga terlibat dalam pendanaan dan distribusi narkoba lintas batas.
Penangkapan Frans menjadi bukti nyata bahwa jaringan narkoba transnasional semakin terstruktur, namun juga menunjukkan kemampuan aparat keamanan Indonesia dalam berkolaborasi lintas negara untuk mengejar pelaku kejahatan lintas batas.

















