Home Berita Nasional Ribuan Mahasiswa Geruduk DPR Tuntut Supremasi Sipil

Ribuan Mahasiswa Geruduk DPR Tuntut Supremasi Sipil

Sumbawanews.com,- Ribuan mahasiswa dari Universitas Trisakti dan Esa Unggul tiba di depan Gedung DPR RI di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pada Jumat sore, 19 Juni 2026, dalam aksi besar bertajuk “Tritura Kembali”. Mereka bergabung dengan massa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Universitas Mercubuana yang lebih dulu memadati halaman kompleks legislatif. Dengan almamater biru, para demonstran berbaris rapi, menyanyikan lagu-lagu perlawanan, dan membentuk benteng manusia di sepanjang trotoar, menandai salah satu aksi terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Aksi ini bukanlah gerakan spontan. Seperti diungkapkan Arief Rizquna, Menteri Kepresidenan Luar Negeri Trisakti, demonstrasi telah direncanakan selama dua hari terakhir melalui konsolidasi mendalam, inventarisasi isu, dan pengkajian strategis. “Kami tidak hanya marah. Kami mengorganisasi kemarahan itu menjadi gerakan yang terstruktur,” ujar Arief sebelum berangkat dari titik kumpul di Tugu 12 Mei Reformasi, Grogol.

Mereka membawa tiga tuntutan utama yang dianggap sebagai akar dari krisis kebangsaan saat ini: pemulihan ekonomi dan politik nasional secara menyeluruh, pemberantasan inkompetensi pejabat negara, serta pengembalian supremasi sipil atas militer. Tuntutan ini sengaja dirumuskan sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai “krisis sistemik” — bukan sekadar isu tunggal, melainkan gejala dari keruntuhan tatanan demokrasi yang semakin memudar.

Di depan pintu utama DPR, orasi-orasi mengalir deras. Suara-suara muda menuntut agar militer kembali ke barak, menolak intervensi apapun dalam urusan sipil, dan mengecam kebijakan-kebijakan yang dianggap mengabaikan kepentingan rakyat kecil. “Kami bukan hanya menuntut pergantian menteri. Kami menuntut perubahan sistem,” teriak seorang mahasiswi dari Esa Unggul, suaranya menggema di antara bendera dan spanduk bertuliskan “Demokrasi Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban.”

Aksi ini berlangsung tertib, meski penuh semangat. Polisi dan petugas keamanan membentuk garis penjagaan, namun tidak ada benturan fisik. Sebaliknya, suasana dipenuhi nyanyian, tepuk tangan, dan seruan-seruan yang menggugah kesadaran kolektif. Di antara massa, terlihat mahasiswa dari berbagai fakultas — hukum, sosial, teknik, hingga kedokteran — bersatu dalam satu tujuan: menegaskan bahwa suara rakyat, terutama generasi muda, tidak bisa lagi diabaikan.

Dengan latar belakang krisis ekonomi yang belum reda, kekhawatiran akan kembalinya kekuasaan militer, dan ketidakpercayaan terhadap elit politik, aksi ini menjadi indikator kuat bahwa gerakan sipil kembali bangkit — bukan sebagai protes sesaat, tapi sebagai gerakan yang terencana, berkelanjutan, dan berakar pada kebutuhan mendesak akan perubahan struktural.

Pemerintah hingga kini belum memberikan respons resmi. Namun, di balik gerakan ini, satu hal jelas: generasi baru Indonesia tidak lagi menunggu. Mereka datang. Mereka berdiri. Dan mereka menuntut.

Previous articleAS-Iran Capai Kesepakatan Damai, Teheran Raih Kemenangan Strategis
Next articlePolisi Periksa Kertas dan Tinta Ijazah Sebelum Tangkap Roy Suryo
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.