Sumbawanews.com,- Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkap bahwa kompleksitas struktur geologi di Sulawesi Tengah menjadi salah satu pemicu utama kerusakan parah pasca-gempa bermagnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah itu pada 16 Juni 2026. Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, kombinasi antara litologi tanah yang lemah, kedekatan episenter dengan permukiman padat, dan topografi curam memperkuat amplifikasi gelombang gempa, sehingga memicu bencana sekunder yang luas.
Gempa utama yang diikuti rangkaian gempa susulan dalam skala besar menunjukkan pola _swarm_—fenomena di mana tekanan tektonik pasca-gempa utama mengaktifkan sesar-sesar tersembunyi di sekitarnya. Di Desa Kamarora A, Kabupaten Sigi, puing-puing rumah berserakan akibat retakan tanah masif, penurunan lahan, dan longsoran di lereng Gunung Kamarora. Di beberapa titik, jalan akses Napu mengalami amblesan akibat tanah tidak kompak yang berada di atas kemiringan curam.
Tak hanya itu, tim ahli juga mencatat fenomena langka di Teluk Palu: surutnya air laut secara tiba-tiba sesaat setelah gempa terjadi. Meski belum sepenuhnya dipahami, gejala ini diduga terkait pergeseran dasar laut akibat deformasi struktur geologi bawah permukaan yang sangat dinamis.
Lana menekankan bahwa dampak bencana yang terjadi bukan semata akibat kekuatan gempa, tetapi juga karena ketidaksesuaian tata ruang dengan kondisi geologi lokal. “Kita tidak bisa lagi mengabaikan peta risiko geologi dalam perencanaan permukiman dan infrastruktur. Di wilayah seperti ini, tanah lunak dan sesar aktif adalah fakta geologis yang harus diakui, bukan diabaikan,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Badan Geologi pun menyerukan perlunya mitigasi bencana berbasis ilmu geologi yang mendalam, termasuk pemetaan risiko likuefaksi dan pergerakan tanah secara real-time. Empat wilayah di Sulteng telah diidentifikasi memiliki potensi likuefaksi tinggi, dan pemerintah daerah diminta segera menyesuaikan regulasi tata ruangnya agar tidak membangun di zona rawan.
Dengan tiga korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang meluas, gempa ini menjadi pengingat keras: di negeri yang berada di pertemuan lempeng tektonik, keberlanjutan pembangunan hanya mungkin jika didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap bumi yang kita tempati.

















