Sumbawanews.com,- Meski upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan tanda-tanda kemajuan, Israel tetap melanjutkan serangan udara intensif di wilayah selatan Lebanon. Serangan itu, yang terjadi pada Senin (14/8/2023), menargetkan sejumlah posisi Hezbollah di dekat perbatasan, memicu kekhawatiran akan melebarnya konflik regional.
Menurut sumber militer Lebanon, setidaknya delapan serangan udara diluncurkan oleh pesawat tempur Israel dalam periode 24 jam, dengan fokus pada gudang senjata, terowongan bawah tanah, dan titik pengamatan militer kelompok itu. Dua warga sipil terluka, sementara sejumlah bangunan di desa Maroun al-Ras dan Aynata mengalami kerusakan parah.
Pernyataan resmi dari Tentara Pertahanan Israel (IDF) menyatakan serangan itu sebagai “tindakan preemtif” untuk menghancurkan “ancaman langsung” yang sedang dipersiapkan Hezbollah. “Kami tidak akan membiarkan kelompok teroris membangun kapasitas serang di dekat perbatasan kami,” ujar seorang pejabat IDF yang meminta tidak disebutkan namanya.
Sementara itu, diplomasi global terus bergerak. AS dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan rahasia untuk meredakan ketegangan di Teluk, termasuk pembukaan saluran komunikasi langsung antara kedua negara dan kemungkinan pencabutan sanksi sebagian terhadap sektor energi Iran. Namun, keputusan itu tampaknya tidak memengaruhi kebijakan keamanan Israel, yang tetap berpegang pada doktrin “serang sebelum diserang.”
Pemerintah Lebanon mengecam serangan itu sebagai pelanggaran berulang terhadap kedaulatan nasional dan meminta Dewan Keamanan PBB segera bertindak. “Kami tidak mencari perang, tetapi kami juga tidak akan diam ketika tanah kami dibom,” kata Menteri Pertahanan Lebanon, Ali Hassan Khalil, dalam konferensi pers darurat.
Analisis keamanan regional menunjukkan bahwa Israel, meski mengapresiasi sinyal damai antara AS dan Iran, tetap memandang Hezbollah sebagai ancaman eksistensial yang tidak bisa ditunda penanganannya. “Diplomasi tingkat tinggi tidak menghapus senjata di perbatasan,” ujar Dr. Rami Nakhla, pakar keamanan Timur Tengah dari Universitas Beirut.
Sementara itu, warga sipil di perbatasan terus mengungsi, sementara kelompok kemanusiaan memperingatkan krisis kemanusiaan yang bisa memburuk jika serangan berlanjut. PBB meminta semua pihak menahan diri, tetapi hingga kini, tidak ada tanda bahwa Israel akan menghentikan operasinya.

















