Sumbawanews.com,- Kementerian Agama secara tegas membantah narasi yang menyebut Menteri Agama Nasaruddin Umar menyamakan pemerintah dengan Firaun dalam pernyataannya tentang Nabi Musa dan Nabi Harun. Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamaruddin Amin, menjelaskan bahwa pernyataan Menag justru mengajak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dengan akhlakul karimah—sebagaimana perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun saat menghadap Firaun, seorang tiran yang kafir dan zalim.
“Menag tidak pernah menyamakan Presiden Prabowo Subianto atau pemerintah dengan Firaun. Justru sebaliknya, beliau menekankan: apalagi kalau yang diajak dialog bukan Firaun,” ujar Kamaruddin, Jumat (19/6/2026), menanggapi viralnya potongan video pernyataan Menag di Makassar pada 14 Juni lalu.
Menurut Kamaruddin, sebagian media dan akun media sosial memotong kalimat kunci dari ucapan Menag: “Apalagi kalau orang itu bukan Firaun.” Frasa ini, yang menjadi inti pesan moral, justru dihilangkan dalam banyak narasi, sehingga menciptakan kesan yang salah dan memicu polarisasi.
Dalam transkrip lengkap yang dirilis Kemenag, Nasaruddin Umar menyatakan: “Nabi Musa dan Nabi Harun diminta menghadap Firaun dengan qaulan layyinan—bahasa yang santun. Bahkan kepada orang yang jelas-jelas zalim dan kafir pun, Allah memerintahkan kesantunan. Lalu, apalagi kalau yang kita sampaikan aspirasi itu adalah pemimpin yang muslim, mukmin, dan sedang berjuang menyejahterakan rakyat?”
Pernyataan itu, lanjut Kamaruddin, adalah ajakan universal untuk menjaga etika dalam berdemokrasi. “Ini bukan pelarian atau pembenaran, tapi panggilan moral. Jika Allah memerintahkan kesantunan bahkan kepada Firaun, maka kepada Presiden yang beriman dan bekerja untuk keadilan sosial, justru lebih layak kita sampaikan aspirasi dengan cara yang mulia.”
Kemenag pun mengecam upaya memanfaatkan pernyataan keagamaan untuk memicu kebencian. “Jangan memotong ayat, jangan memotong kalimat, lalu menafsirkannya sesuai kepentingan. Ini bukan kebebasan berpendapat, tapi upaya adu domba,” tegas Kamaruddin.
Pernyataan Menag yang dianggap kontroversial itu muncul dalam konteks demonstrasi mahasiswa yang belakangan kerap disertai retorika tajam dan seruan yang mengarah pada kritik terhadap pemerintah. Nasaruddin, yang dikenal sebagai ulama berlatar belakang akademik dan tafsir kontekstual, justru menawarkan solusi berbasis nilai-nilai Islam yang humanis: komunikasi yang damai, aspirasi yang beradab, dan perbedaan yang tidak menghancurkan persatuan.
Dengan demikian, pesan inti dari Menag bukanlah pembenaran terhadap kekuasaan, melainkan peneguhan bahwa kebenaran tidak perlu dibangun di atas kekerasan verbal—bahkan ketika lawan bicaranya adalah Firaun.
















