Home Serba Serbi Tekno Krisis Lebah Australia, Peringatan untuk Indonesia

Krisis Lebah Australia, Peringatan untuk Indonesia

Sumbawanews.com,- Australia tengah menghadapi krisis ekologis yang mengancam ketahanan pangan: kehilangan hampir 290 ribu sarang lebah madu akibat wabah tungau *Varroa destructor*. Ancaman ini bukan sekadar masalah peternakan, melainkan guncangan sistemik yang berdampak pada sektor pertanian senilai AU$14,2 miliar per tahun. Lebah, yang menjadi tulang punggung penyerbukan tanaman krusial seperti almond, apel, ceri, dan alpukat, kini terancam punah secara massal—lebih dari 50 persen peternak harus menutup usaha karena biaya pengendalian yang tak terkendali dan resistensi parasit terhadap pestisida kimia.

Prof Ronny Rachman Noor, pakar genetika ekologi dari IPB University, menjelaskan bahwa tungau *Varroa* bukan sekadar hama biasa. Parasit ini menempel pada lebah dewasa, berkembang biak di dalam sel larva, dan mengisap hemolimfa—cairan sirkulasi tubuh lebah—sehingga melemahkan sistem imun mereka. Lebih parah lagi, tungau ini menjadi vektor penyebar virus mematikan seperti *deformed wing virus* dan rhabdovirus, yang mempercepat keruntuhan koloni. Di negara bagian New South Wales dan Queensland, populasi tungau telah berkembang menjadi strain kebal terhadap pyrethroid dan amitraz, dua bahan aktif yang selama ini menjadi andalan pengendalian.

Keruntuhan koloni lebah di Australia tidak terjadi dalam semalam. Sejak 2022, lebih dari 60 persen sarang telah hilang, dan prediksi untuk musim polinasi Agustus 2026 menunjukkan kekurangan sarang yang akan memicu gagal panen, lonjakan harga pangan, dan ketergantungan impor yang semakin dalam. Ini adalah pelajaran pahit yang tak bisa diabaikan.

Bagi Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan sektor pertanian yang sangat bergantung pada penyerbukan alami, krisis ini adalah sirene peringatan. “Kita tidak bisa menunggu wabah datang baru bertindak,” tegas Ronny. Ia menekankan pentingnya penguatan biosekuriti nasional—terutama dalam pengawasan impor lebah dan produk apikultur—sebelum tungau *Varroa* masuk melalui jalur perdagangan global. Indonesia, yang memiliki lebih dari 500 spesies lebah lokal, justru punya modal besar untuk tidak bergantung sepenuhnya pada lebah madu *Apis mellifera* yang rentan.

Solusi jangka panjang, menurut Ronny, harus berbasis pendekatan terpadu (*integrated pest management*). Artinya, kombinasi metode kimia yang terbatas, penggunaan asam organik, pemuliaan lebah tahan varroa, serta pemanfaatan teknologi bioteknologi untuk deteksi dini. Tidak kalah penting, diversifikasi penyerbuk: membangun ekosistem yang mendukung lebah asli, serangga polinator lain, bahkan burung dan kelelawar. “Kita tidak boleh meletakkan semua telur di satu keranjang,” ujarnya.

Pemerintah, kata Ronny, perlu segera merancang kebijakan strategis: subsidi untuk pengendalian hama, pendanaan riset berkelanjutan, dan pelatihan intensif bagi peternak lebah dalam penerapan IPM. Tanpa langkah proaktif, Indonesia berisiko mengulang tragedi Australia—di mana kehilangan lebah bukan sekadar kehilangan madu, tapi kehilangan fondasi ketahanan pangan.

Krisis di benua kanguru bukanlah cerita jauh. Ia adalah cermin yang memperlihatkan betapa rapuhnya sistem pertanian modern yang mengandalkan satu spesies. Dan di sinilah, kearifan lokal dan keberagaman alam Indonesia bisa menjadi penyelamat—jika kita cukup bijak untuk mendengarkan peringatannya.

Previous articleMassa Dukung Prabowo Bubar, Lalu Lintas Patung Kuda Normal Kembali
Next articleKemenag Bantah Nasaruddin Umar Samakan Pemerintah dengan Firaun
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.