Sumbawanews.com,- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membawa lima mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dalam kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, dan Papua, mulai 18 hingga 21 Juni 2026. Salah satunya adalah Rapid Bena Matin, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), yang dipilih oleh sekretariat wapres tanpa syarat khusus—hanya diminta hadir sebagai perwakilan mahasiswa.
Dian Bestari Santi Rahayu, juru bicara Unsoed, membenarkan bahwa pemilihan Rapid Bena Matin dilakukan atas permintaan langsung dari Sekretariat Wakil Presiden. “Tidak ada kriteria spesifik, hanya diminta mengirimkan satu mahasiswa,” ujarnya. Rapid, yang baru dilantik sebagai Duta Kampus Unsoed periode 2026–2027 pada 2 Juni lalu, saat ini tengah menjalani masa magang, sehingga keberangkatannya tidak mengganggu aktivitas akademiknya.
Kehadiran mahasiswa dalam rombongan wapres bukan sekadar simbolis. Gibran menegaskan, langkah ini merupakan respons terhadap aspirasi generasi muda yang secara damai menyampaikan masukan terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. “Saya ucapkan terima kasih atas masukan konstruktif yang telah disampaikan. Keterlibatan langsung mahasiswa penting untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, dan ketepatan sasaran program,” ujar Gibran di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, sebelum keberangkatan.
Selain Rapid, empat mahasiswa lain yang diajak adalah Keletus Sakaro dari Universitas Sanata Dharma, Daffa Ulhaq dari Universitas Indonesia, Nolan Christopher Adam dari Universitas Pelita Harapan, dan Salsabila Maulida dari Institut Seni Budaya Indonesia. Mereka akan turut memantau implementasi program di lapangan, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan generasi muda.
Gibran menekankan, pemerintah berkomitmen memastikan setiap rupiah program prioritas digunakan secara optimal dan bebas dari praktik korupsi. “Kepercayaan publik adalah aset paling berharga. Keterbukaan dan partisipasi aktif dari masyarakat, termasuk mahasiswa, adalah kunci menjaganya,” tegasnya.
Kunjungan kerja ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kolaborasi strategis dengan generasi muda—bukan hanya sebagai penerima kebijakan, tetapi sebagai mitra pengawas dan penyumbang ide. Dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai latar belakang geografis dan akademis, pemerintah berharap dapat membangun sistem pengawasan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.















