Sumbawanews.com,- Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersejarah di Versailles, Prancis, bukan di Swiss seperti yang direncanakan semula. Kesepakatan yang ditandatangani langsung oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian itu berisi 14 poin krusial, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian program senjata nuklir Iran, sebagai langkah awal menuju penyelesaian diplomatik atas ketegangan berkepanjangan antarkedua negara.
Penandatanganan terjadi pada Rabu malam, di sela-sela pertemuan puncak G7 di Istana Versailles. Trump mengonfirmasi kesepakatan itu usai makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron. “Sudah ditandatangani,” ujar Trump kepada awak media sebelum meninggalkan lokasi. Macron pun membenarkan, menyebut kesepakatan itu sebagai “jembatan menuju perdamaian abadi” dan “pembukaan kembali jalur maritim strategis di Teluk Persia.”
Setelah Trump menandatangani salinan fisik dokumen, tim AS segera mengirimkan foto dokumen tersebut ke Teheran. Presiden Pezeshkian kemudian menandatangani versi bahasa Farsi dari MoU itu di hadapan pejabat tinggi pemerintah Iran. Foto resmi yang dirilis oleh kantor berita IRNA menunjukkan kedua pemimpin—meski secara terpisah—memegang dokumen yang sama, menandai kesepakatan lintas benua yang dicapai tanpa pertemuan langsung.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator, mengumumkan bahwa MoU—yang disebutnya sebagai “Islamabad Accord”—telah ditandatangani secara elektronik dan resmi berlaku segera. “Komitmen tertinggi dari kedua negara telah diwujudkan,” katanya di platform X. Sebagai langkah pertama, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, sementara AS akan mencabut blokade angkatan lautnya tanpa syarat tambahan.
Dokumen MoU tersebut kemudian dirilis secara publik oleh kedua pihak pada hari yang sama—AS melalui situs resmi pemerintah, dan Iran melalui IRNA—menggagalkan rencana awal untuk mengumumkannya setelah upacara di Swiss pada Jumat mendatang. Karena penandatanganan telah selesai, rencana pertemuan delegasi AS dan Iran di Swiss pun berubah. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pertemuan itu kemungkinan ditunda, sementara Gedung Putih mengonfirmasi bahwa delegasi tetap akan bertemu, tetapi tanpa upacara peresmian penandatanganan.
Dengan MoU yang telah berlaku dan langkah-langkah konkret segera dijalankan, diplomasi global bergerak cepat—meninggalkan simbolisme tradisional demi efisiensi praktis. Namun, tantangan besar masih menanti: bagaimana menjamin kepatuhan berkelanjutan, terutama di tengah skeptisisme Israel dan kekuatan regional lainnya yang meragukan niat jujur kedua belah pihak.















