Sumbawanews.com,- Kamis, 18 Juni 2026, kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, menjadi pusat gerakan sipil yang tak terduga. Ribuan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, didukung perwakilan HIMAPOL se-Indonesia, bergerak dari kampus Pondok Labu menuju titik aksi di depan Istana Negara. Sebelum berangkat, mereka berkumpul di selasar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik B, membentuk barisan yang tenang namun penuh tekad.
Aksi ini digelar pukul 10.00 WIB, sesuai jadwal yang dipublikasikan melalui akun Instagram resmi BEM UPNVJ. Meski belum ada pernyataan resmi tentang tuntutan spesifik, sumber internal menyebut bahwa isu pendidikan, biaya hidup, dan kebijakan publik menjadi fokus utama. Ketua BEM UPNVJ, Gufron Dymas Wicaksono, dan perwakilan media, Tazkia Ayudya, belum memberikan respons hingga berita ini diturunkan.
Tak jauh dari lokasi, Aliansi Perempuan Indonesia juga melakukan aksi serentak. Ribuan perempuan dari berbagai organisasi masyarakat sipil bergerak dari trotoar seberang Lapangan Skateboard Dukuh Atas, membawa perabot dapur, spanduk bertuliskan “Turunkan Harga Pokok”, “Lapangan Kerja Layak”, dan “Evaluasi MBG”. Mereka mengenakan pakaian merah muda dan daster, simbol kekuatan rumah tangga yang bangkit menuntut keadilan ekonomi.
Kedua kelompok—mahasiswa dan perempuan—berjalan menuju titik yang sama: depan Istana Negara. Meski tidak terkoordinasi secara formal, aksi mereka menciptakan gelombang protes yang saling menguatkan. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Patung Kuda kembali menjadi saksi bisu perlawanan sipil yang damai namun tak terbendung.
Pemerintah hingga kini belum merespons secara resmi. Namun, kehadiran dua kelompok yang berbeda latar, namun menyuarakan tuntutan serupa, menandai sebuah tren baru: gerakan sosial yang tak lagi terpecah, melainkan menyatu dalam satu suara—suara rakyat yang lelah menunggu.















