Sumbawanews.com,- Serangan udara beruntun meluluhlantakkan ibu kota Ukraina, Kyiv, pada dini hari Senin (15/6). Rudal dan drone milik Rusia menghantam sejumlah gedung apartemen di pusat kota, menewaskan setidaknya empat warga sipil dan melukai beberapa lainnya. Asap hitam pekat membumbung ke langit, menyelimuti jalan-jalan dan menutupi pemandangan langit yang biasanya cerah di pagi hari.
Meski sistem pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh sebagian besar serangan, puing-puing yang jatuh tetap memicu kebakaran hebat di beberapa titik, termasuk di area parkir kendaraan dan bangunan komersial. Warga berhamburan mencari perlindungan di stasiun metro terdekat, sementara petugas pemadam kebakaran bekerja keras memadamkan api yang menjalar cepat akibat angin kencang.
Serangan ini terjadi di tengah upaya Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk mendorong perundingan damai setelah konflik berkepanjangan yang telah berlangsung lebih dari empat tahun. Namun, intensitas serangan yang meningkat menunjukkan bahwa Moskow belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi tekanan militer, bahkan saat dunia terus menyerukan gencatan senjata.
Pihak berwenang Ukraina mendesak warga untuk tetap waspada dan menghindari area yang terkena dampak serangan. Sementara itu, negara-negara Barat mengutuk serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional dan berjanji memperkuat bantuan militer serta pertahanan udara bagi Ukraina.
Di tengah kekacauan, warga Kyiv terus menunjukkan ketahanan. Di jalanan yang masih berdebu dan penuh puing, sejumlah warga berdiri di depan reruntuhan rumah mereka, memegang bendera nasional—tanda bahwa meski kota dilanda kehancuran, semangat untuk bertahan hidup tak pernah padam.

















