Home Berita Internasional Rusia dan Ukraina Saling Serang Infrastruktur Strategis

Rusia dan Ukraina Saling Serang Infrastruktur Strategis

Sumbawanews.com,- Kedua belah pihak melanjutkan serangan mematikan di tengah kebuntuan diplomasi, dengan Rusia mengklaim menghancurkan 150 titik militer Ukraina dan menembak jatuh 483 drone dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, Ukraina menyerang fasilitas energi dan industri senjata di dalam wilayah Rusia, termasuk pabrik kimia Azot di Tula dan depot minyak di Yaroslavl—keduanya dianggap krusial bagi kelancaran logistik militer Moskow.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangannya menggunakan pesawat tempur, rudal, dan artileri untuk menargetkan depot drone jarak jauh, jaringan transportasi, pelabuhan, serta infrastruktur energi yang mendukung operasi militer Ukraina. Klaim ini disertai laporan bahwa pasukan Ukraina dan tentara bayaran asing telah kehilangan posisi strategis di 150 lokasi berbeda.

Sementara itu, serangan balasan Ukraina berhasil menembus jantung pertahanan Rusia. Wali Kota Moskow, Sergey Sobyanin, mengonfirmasi adanya serangan drone yang menyebabkan kerusakan di kawasan ibu kota, memicu evakuasi dan pengerahan tim darurat. “Warga dan petugas sedang bekerja membersihkan puing-puing drone yang jatuh,” ujarnya, menegaskan bahwa serangan ini bukan lagi sekadar ancaman di garis depan, tapi serangan langsung ke ruang vital negara.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperkuat klaimnya melalui unggahan di platform X, menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas minyak Yaroslavl dan pabrik kimia Azot adalah bagian dari strategi untuk memutus rantai pasokan senjata Rusia. Pabrik Azot, yang memproduksi bahan kimia untuk bahan peledak, disebut sebagai salah satu pilar utama industri pertahanan Rusia.

Perang ini kini semakin didominasi oleh teknologi drone—alat yang mengubah batas geografis menjadi tak relevan. Dulu, pertempuran ditentukan oleh tank dan artileri; kini, serangan jarak jauh dari drone yang terbang ribuan kilometer menjadi senjata andalan kedua pihak. Rusia menggunakannya untuk merusak infrastruktur Ukraina dari jauh, sementara Ukraina memanfaatkannya untuk menyerang target di dalam Rusia yang sebelumnya dianggap aman.

Dengan konflik yang sudah memasuki tahun kelima tanpa tanda-tanda penyelesaian diplomatik, kedua belah pihak tampak semakin mengandalkan kekuatan militer untuk memperlemah kapasitas lawan, bukan untuk merebut wilayah. Serangan terhadap fasilitas energi, industri, dan logistik—bukan hanya pasukan—menunjukkan pergeseran strategi: bukan lagi menang di medan perang, tapi menghancurkan kemampuan lawan untuk terus berperang.

Dalam situasi ini, setiap drone yang jatuh, setiap pipa minyak yang meledak, dan setiap pabrik yang lumpuh bukan sekadar kerusakan fisik—mereka adalah poin dalam perang psikologis yang tak terlihat, namun menentukan masa depan konflik.

Previous articleMahasiswa BEM SI Bubarkan Diri Tertib Usai Aksi di DPR
Next articleDukung Anggaran HAM, Komisi XIII Setujui Tambahan Dana Komnas HAM dan Perempuan
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.