Home Berita Internasional AS Tegaskan Blokade Iran Tak Akan Dikompromikan

AS Tegaskan Blokade Iran Tak Akan Dikompromikan

Sumbawanews.com,- Washington, DC — Amerika Serikat secara tegas menyatakan bahwa setiap pelanggaran terhadap blokade maritim yang diberlakukan terhadap Iran di Selat Hormuz akan dianggap sebagai ancaman serius terhadap keamanan maritim global. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada rekan senegaranya dari India, Subrahmanyam Jaishankar, dalam pembicaraan darurat yang berlangsung pada Jumat (13/6/2026).

Rubio menekankan bahwa semua kapal dagang, tanpa terkecuali, wajib mematuhi instruksi operasi angkatan laut AS di kawasan strategis itu. Washington menilai blokade ini sebagai langkah esensial untuk mencegah peredaran minyak Iran yang melanggar sanksi internasional, sekaligus menjaga stabilitas jalur pelayaran vital yang menjadi tulang punggung perdagangan global.

Namun, tindakan AS mendapat respons keras dari India. Sehari sebelumnya, Jaishankar secara terbuka mengutuk serangan Angkatan Laut AS terhadap kapal tanker M/T Settebello, berbendera Palau, yang menewaskan tiga pelaut India di perairan lepas pantai Oman pada 10 Juni lalu. “Tindakan mematikan terhadap kapal komersial sipil tidak dapat dibenarkan, apalagi ketika tidak ada bukti konkret bahwa kapal tersebut mengangkut minyak Iran,” tegas Jaishankar dalam unggahan di platform X.

Kemarahan New Delhi semakin memuncak setelah serangan serupa dilancarkan terhadap dua kapal lain—M/T Marivex dan M/T Jalveer—yang juga diduga terlibat dalam perdagangan minyak Iran. Dalam serangan terhadap M/T Marivex pada 8 Juni, 24 pelaut India harus dievakuasi setelah kapal mengalami kerusakan parah. Sementara itu, pada 11 Juni, AS menyerang kapal tanker berbendera Guinea-Bissau, di mana seluruh 20 awak warga negara India berhasil diselamatkan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mempertahankan posisinya bahwa semua kapal yang terlibat dalam operasi penyelundupan minyak Iran di Selat Hormuz adalah target sah. Namun, India menilai bahwa tindakan AS melampaui batas hukum internasional, terutama karena sebagian besar kapal yang diserang berbendera negara ketiga dan awaknya adalah warga sipil yang tidak terlibat dalam kebijakan politik Iran.

Dalam pertemuan tertutup, pemerintah India memanggil Duta Besar AS di New Delhi untuk kedua kalinya dalam seminggu. Pihak India menuntut kompensasi atas korban jiwa, akses terbuka bagi kapal-kapal dagang India, serta jaminan bahwa serangan serupa tidak akan terulang.

Sementara itu, AS menegaskan bahwa mereka tidak berniat memperburuk hubungan dengan India—negara mitra strategis di Indo-Pasifik—namun tidak akan mengorbankan kepentingan keamanan nasional demi menjaga hubungan diplomatik. “Kami menghargai kemitraan dengan India, tetapi blokade terhadap minyak Iran adalah garis merah yang tidak bisa ditawar,” ujar seorang pejabat Gedung Putih yang meminta tidak disebutkan namanya.

Krisis ini memperdalam ketegangan di kawasan Teluk, di mana Iran telah memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal-kapalnya atau yang diduga mengangkut minyaknya akan dianggap sebagai tindakan perang. Sementara itu, negara-negara seperti Oman dan Uni Emirat Arab terus berupaya menjadi penengah, sementara Pakistan menyatakan bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran masih mungkin dicapai dalam waktu 24 jam—jika kedua belah pihak bersikap realistis.

Dengan tiga nyawa melayang dan puluhan pelaut terluka, diplomasi kini berjalan di atas puncak gunung es. Di tengah ketidakpastian, satu hal jelas: AS tidak akan mundur dari blokadanya. Dan India, yang bergantung pada energi Timur Tengah, tidak akan diam saja.

Previous articleElon Musk Resmi Jadi Triliuner Pertama Dunia
Next articleTrump Klaim Kesepakatan Iran Akan Ditandatangani Minggu Ini
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.