Sumbawanews.com,- Kiyomasa, gorila jantan berusia 13 tahun di Kebun Binatang dan Taman Botani Higashiyama, Nagoya, Jepang, menjadi perhatian global setelah rekaman videonya menunjukkan ekspresi luar biasa manusiawi: termenung, tangan dilipat, dan jari-jari menggaruk kepala—tanda-tanda yang banyak netizen anggap sebagai gambaran kesedihan pasca pertengkaran dengan pasangannya.
Video yang beredar luas di media sosial itu memperlihatkan Kiyomasa duduk diam di tengah kandang, jauh dari kelompoknya, dengan tatapan kosong dan gerakan lambat yang kontras dengan energi biasanya. Ekspresinya begitu jelas, hingga ribuan warganet di berbagai belahan dunia langsung menyamakannya dengan perilaku manusia yang sedang “galau” setelah cekcok dengan pasangan.
“Ini seperti suami saya setelah kalah debat di rumah—pindah ke ruang tamu, diam, dan pura-pura baca koran,” tulis salah satu pengguna Twitter. “Saya yakin gorila pun punya hati yang bisa terluka,” tambah yang lain.
Kiyomasa, anak dari gorila punggung perak terkenal Shabani, lahir pada 1 November 2012 dan tumbuh dalam kelompok sosial yang diawasi ketat oleh para peneliti primata. Meski tidak ada bukti ilmiah bahwa gorila mengalami “galau” seperti manusia, perilakunya memang menarik perhatian para ahli etologi. “Ekspresi wajah dan postur tubuhnya sangat mirip dengan respons emosional primata lain saat mengalami ketegangan sosial,” ujar Dr. Yuki Tanaka, peneliti primata dari Universitas Nagoya.
Kebun binatang tersebut memang dikenal sebagai pusat penelitian perilaku gorila dataran rendah, dan Kiyomasa adalah salah satu individu yang paling sering dipantau karena sifatnya yang sangat ekspresif. Meski hubungannya dengan betina yang bertengkar dengannya belum dijelaskan secara resmi, petugas kebun binatang mengonfirmasi bahwa kedua gorila itu kembali berinteraksi normal dalam beberapa jam setelah insiden itu.
Tak hanya mengundang tawa, video itu juga memicu diskusi lebih dalam tentang emosi hewan. Banyak yang menyebut momen ini sebagai pengingat bahwa batas antara manusia dan hewan dalam hal perasaan mungkin jauh lebih tipis dari yang kita bayangkan.
Kiyomasa kini menjadi ikon tak resmi dari kesadaran akan kehidupan emosional satwa liar—bukan karena kecerdasannya yang luar biasa, tapi karena ia, seperti kita, terkadang hanya butuh waktu sendiri untuk merenung setelah hari yang berantakan.

















