Sumbawanews.com,- Pusat data kecerdasan buatan yang menopang kehidupan digital sehari-hari kini mengancam kelestarian lingkungan global melalui konsumsi energi, air, dan lahan dalam skala masif. Laporan terbaru dari United Nations University (UNU) memperingatkan bahwa jejak ekologis AI tidak lagi bisa diabaikan—terutama saat permintaan komputasi terus meledak.
Menurut laporan berjudul “Environmental Cost of AI’s Energy Use: Carbon, Water and Land Footprints” yang dirilis pada 3 Juni 2026, konsumsi listrik pusat data AI global diproyeksikan mencapai 945 miliar kilowatt-jam pada 2030, atau setara 3 persen dari total kebutuhan listrik dunia. Angka ini setara dengan konsumsi tahunan seluruh negara di Eropa Barat. Lebih mengkhawatirkan lagi, jejak airnya diperkirakan menyentuh 9,3 triliun liter—setara dengan 3,7 juta kolam olimpiade—sedangkan lahan yang dibutuhkan untuk membangun dan mendinginkan fasilitas ini melampaui 14.500 kilometer persegi, seukuran wilayah Belgia.
Tak hanya itu, limbah elektronik dari perangkat keras yang usang akibat perkembangan AI juga diprediksi mencapai 2,5 juta ton dalam kurun waktu yang sama. Yang mengejutkan, meskipun pelatihan model AI sering jadi fokus utama perdebatan, justru interaksi harian miliaran pengguna—melalui permintaan sederhana seperti mengetik pertanyaan atau meminta rekomendasi—menyumbang 80 hingga 90 persen dari total konsumsi energi AI.
UNU menekankan bahwa penilaian dampak lingkungan AI tidak bisa hanya berdasarkan emisi karbon. Faktor lain—seperti penggunaan air untuk pendinginan, perluasan lahan, dan limbah teknologi—harus dilihat secara holistik. Bahkan, pusat data dengan emisi karbon rendah pun bisa jadi bencana lokal jika berdiri di wilayah kekurangan air atau rawan deforestasi.
Di Taiwan, yang kini memiliki 36 pusat data—menempatkannya di peringkat sembilan dunia—dampak ini sudah terasa nyata. Profesor Cheng An-ting dari National Chengchi University menjelaskan bahwa kebijakan energi yang bergantung pada tenaga surya dan angin lepas pantai justru memicu persaingan sengit atas lahan. “Di negara kecil seperti Taiwan, setiap meter persegi tanah bernilai strategis. Pembebasan lahan untuk pusat data berbenturan langsung dengan kebutuhan pangan, konservasi, dan kehidupan masyarakat lokal,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pusat Penelitian Jaringan Aksi Iklim Taiwan, Chao Chia-wei, menawarkan solusi sistemik: pembangunan “taman energi” terintegrasi. Konsep ini menggabungkan pusat data, panel surya, turbin angin, sistem penyimpanan baterai, dan daur ulang air dalam satu kompleks tertutup. Ia juga menyarankan agar tugas AI yang tidak memerlukan respons real-time—seperti analisis data historis atau pemrosesan batch—dijadwalkan pada jam-jam ketika pasokan energi terbarukan melimpah, sehingga mengurangi tekanan pada jaringan listrik.
Langkah-langkah ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan kebutuhan strategis. Dengan pertumbuhan AI yang tak terbendung, dunia dihadapkan pada dilema: memilih antara kemajuan digital atau kelangsungan hidup ekosistem. Tanpa tata kelola yang berkelanjutan, kecerdasan buatan bisa jadi senjata makan tuan—menghasilkan solusi cerdas, tapi dengan harga yang terlalu mahal bagi planet ini.

















