Sumbawanews.com,- Militer Israel mulai mengusir warga dari kota Tyre, Lebanon, menjelang kemungkinan operasi darat besar-besaran di wilayah yang selama ini dianggap relatif aman karena mayoritas penduduknya beragama Kristen. Selebaran yang disebar pasukan Zionis meminta seluruh warga—termasuk di kamp-kamp sekitar—segera mengungsi ke utara Sungai Zahrani, sejauh 30 kilometer dari pusat kota. Pernyataan itu mengejutkan, sebab sebelumnya Israel jarang memaksa penduduk Kristen di Lebanon selatan untuk meninggalkan rumah mereka. Namun, Tel Aviv kini menuduh Hizbullah telah menyusup dan membangun basis operasi di kawasan tersebut, menjadikan Tyre sebagai target militer strategis.
Sementara itu, di Teheran, Iran mengumumkan penghentian serangan rudal ke Israel—sebuah langkah yang tampaknya sebagai respons terhadap gencatan senjata yang mulai berlaku sejak April—namun dengan peringatan tajam: jika agresi Israel terhadap Lebanon berlanjut, maka balasan yang “menghancurkan” akan segera dijalankan. Dalam pernyataan resmi dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando tertinggi militer Iran, disebutkan bahwa serangan Zionis di Lebanon Selatan dan Dahiya—dengan dukungan aktif Amerika Serikat—telah melampaui batas kemanusiaan. “Rezim Zionis seharusnya sudah belajar dari konsekuensi yang mereka hadapi,” tegas pernyataan itu, menegaskan bahwa penghentian serangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi untuk menunggu momen yang tepat.
Di tengah ketegangan ini, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan retorika militer yang menggema. Dalam pernyataan yang diunggah di platform media sosialnya, Trump menyatakan bahwa AS akan meraih “kemenangan total” atas Iran dalam waktu dua minggu ke depan. “Kami adalah tim yang sangat tangguh. Kemenangan ini akan segera terjadi, dan harga minyak akan turun,” ujarnya, seolah mengaitkan dinamika konflik Timur Tengah dengan stabilitas pasar energi global. Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah Iran mengumumkan jeda serangan, memperdalam kekhawatiran bahwa retorika keras dari pihak-pihak eksternal justru bisa memperpanjang siklus kekerasan.
Kini, Tyre menjadi titik api baru di peta konflik Timur Tengah—bukan hanya karena letak geografisnya yang strategis, tetapi karena simbolismenya: sebuah kota yang selama puluhan tahun menjadi benteng perdamaian antarumat beragama, kini dipaksa menghadapi kehancuran oleh keputusan militer yang mengabaikan sejarah. Sementara itu, Iran menegaskan: mereka tidak mencari perang, tetapi tidak akan mundur jika diserang. Dunia menunggu—apakah langkah selanjutnya akan berupa diplomasi, atau ledakan yang lebih besar.

















