Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui kemungkinan besar dirinya mengetahui keberadaan Ayatollah Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, setelah serangan militer Israel dan AS mengguncang jajaran elit Tehran. Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News, Trump menghindari pernyataan langsung, tetapi memberi isyarat kuat bahwa ia memiliki informasi rahasia tentang lokasi Mojtaba.
“Saya tidak ingin mengatakan apakah saya tahu di mana dia berada atau tidak. Tetapi ada kemungkinan besar bahwa saya mengetahuinya,” ujar Trump, menegaskan bahwa ia tidak membagikan detailnya—bukan karena ketidaktahuan, tapi karena sifat informasi yang sensitif.
Trump memuji Mojtaba sebagai pemimpin yang “lebih rasional” dan “sangat cerdas” dibanding ayahnya yang kini tak terlihat sejak konflik meletus. Ia menyoroti keberanian Mojtaba yang tetap tampil di depan publik meski mengalami luka serius dalam serangan tersebut. “Banyak orang, jika terluka separah itu, tidak akan membicarakan hubungan dengan Amerika. Mereka akan fokus pada penyembuhan. Tapi dia? Dia bicara soal masa depan. Itu keberanian luar biasa.”
Presiden AS itu juga menyatakan kesiapannya untuk berdialog langsung dengan Mojtaba, jika pemimpin Iran itu bersedia. “Saya akan melakukannya jika dia mau. Tapi saya belum berbicara dengannya secara langsung.” Pernyataan ini menandai pergeseran retorika yang signifikan dari sikap keras AS terhadap Iran selama dekade terakhir, sekaligus menunjukkan upaya Trump untuk memanfaatkan kekacauan di Teheran sebagai peluang diplomasi.
Dalam pandangan Trump, pergantian kepemimpinan di Iran bukan hanya peralihan kekuasaan, tapi momen strategis. Mojtaba, yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh di balik layar, kini berada di garis depan—dan menurut Trump, ia lebih terbuka terhadap negosiasi daripada ayahnya yang otoriter dan tertutup.
Komentar Trump ini muncul di tengah eskalasi ketegangan regional, di mana Iran dan sekutunya, termasuk Houthi di Yaman, terus melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan kepentingan AS di Timur Tengah. Sementara itu, Washington dan Tel Aviv berusaha mempertahankan tekanan militer, sambil menunggu apakah kekuatan baru di Iran akan memilih jalur konfrontasi atau jalan damai.
Dengan pernyataannya, Trump tidak hanya mengungkapkan pengetahuannya—ia juga mengirim pesan halus: AS tidak hanya mengamati perubahan di Iran, tapi berada di posisi untuk memengaruhi arahnya.

















