Sumbawanews.com,- Fenomena langka hujan meteor Arietid akan mencapai puncak aktivitasnya pada 10 Juni 2026, tepat menjelang matahari terbit—menjadikannya salah satu hujan meteor paling aktif yang sulit diamati secara visual. Meski menghasilkan hingga 60 hingga 200 meteor per jam, keberadaannya nyaris tak terlihat oleh mata telanjang karena titik pancarannya berada sangat dekat dengan matahari, sehingga aktivitasnya terjadi di siang hari.
Dilansir dari EarthSky, hujan meteor ini berlangsung setiap tahun antara 22 Mei hingga 3 Juli, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada dini hari 10 Juni. Para pengamat yang ingin menyaksikannya harus bangun sebelum fajar, menghadap ke arah langit timur, dan berada di lokasi bebas polusi cahaya. Tantangan tambahan datang dari cahaya bulan sabit yang masih cukup terang, mengaburkan sebagian cahaya meteor yang lemah.
Arietid pertama kali terdeteksi pada 1947 melalui radar di Teleskop Radio Jodrell Bank, Inggris—bukan melalui pengamatan visual, karena memang sebagian besar meteor jatuh saat langit masih terang. Ilmuwan meyakini sumber meteor ini berasal dari sisa-sisa komet 96P/Machholz, yang ditemukan oleh astronom amatir Don Machholz pada 1986. Material yang terlepas dari komet ini terus mengorbit Bumi, dan setiap tahun, saat Bumi melintasi jalurnya, partikel-partikel itu membakar diri di atmosfer, menciptakan jejak cahaya yang spektakuler.
Meski tak sepopuler Perseid atau Geminid yang bisa dinikmati malam hari, Arietid tetap menjadi favorit para astronom karena intensitasnya yang tinggi dan keunikan sebagai hujan meteor siang hari. Pengamatan modern, terutama melalui radar dan deteksi gema radio, terus memperkuat pemahaman kita tentang fenomena ini—yang meski tak terlihat, tetap menghiasi langit kita setiap tahun.
Bagi pecinta astronomi, momen ini menjadi pengingat bahwa alam semesta terus bergerak, bahkan ketika kita tidur. Dan meski matahari menyembunyikan keindahannya, bukan berarti ia tak ada—hanya perlu alat dan ketekunan untuk menangkapnya.

















