Sumbawanews.com,- Teheran — Iran menghentikan sementara operasi militer terhadap Israel, namun memberi peringatan tegas: jika Tel Aviv melancarkan serangan ke Lebanon selatan, balasan yang jauh lebih dahsyat akan segera menyusul. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Komando Pusat Khatam al-Anbiya, markas tertinggi militer Iran, pada Senin (8/6/2026), sehari setelah serangan balasan beruntun antara kedua negara memicu krisis terparah sejak gencatan senjata pada 8 April lalu.
Penghentian sementara operasi bernama “Nasr” itu bukan tanda menyerah, melainkan strategi pengendalian. Dalam pernyataan resmi yang dirilis media militer Iran, Komando menyatakan bahwa serangan terhadap pangkalan udara strategis Israel—Nevatim dan Tel Nof—telah berhasil dilancarkan sebagai respons atas serangan udara Israel yang menargetkan instalasi radar di wilayah barat daya Iran. Operasi ini, yang diberi kode “Ya Heydar Karrar”, dirancang sebagai penghormatan kepada para syuhada yang gugur dalam konflik 12 hari tahun lalu.
Namun, fokus utama peringatan Iran bukan pada Tel Aviv, melainkan pada Beirut selatan. Dengan nada yang jelas dan tidak ambigu, Teheran menegaskan bahwa setiap serangan Israel terhadap wilayah Lebanon selatan—yang menjadi basis utama Hizbullah, sekutu militer terdekat Iran—akan dianggap sebagai pelanggaran garis merah. “Jika Israel melanjutkan agresinya ke Lebanon selatan, maka balasan kami tidak lagi terbatas pada target militer. Konsekuensinya akan melampaui batas yang pernah dibayangkan,” demikian pernyataan resmi yang dikutip oleh media internasional seperti India Today dan Pakistan Observer.
Serangan balasan Iran pada Senin pagi melibatkan gelombang rudal balistik dan drone kamikaze yang menghantam dua pangkalan udara Israel, memicu kebakaran besar dan kerusakan infrastruktur kritis. Pihak Israel mengaku berhasil menangkal sebagian serangan, namun tidak bisa menutupi kerusakan pada fasilitas logistik dan sistem radar. Sementara itu, di Teheran, ribuan warga berkumpul di Alun-Alun Valiasr, mengibarkan bendera Iran dan Hizbullah, menyanyikan lagu-lagu perjuangan, dan menyerukan “Kematian bagi Israel” dalam unjuk rasa yang berlangsung damai namun penuh tekad.
Ketegangan ini terjadi di tengah tekanan diplomatik global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan segera menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, meminta agar Israel menahan diri dari eskalasi lebih lanjut. Sementara itu, Paus Leo XIV mengkritik keras serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran di Qeshm, menyebutnya sebagai “bukan perang yang adil”. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga menyatakan bahwa negosiasi antara AS dan Iran soal program nuklir kembali memperlihatkan tanda-tanda kemajuan, meski situasi keamanan di Timur Tengah terus memburuk.
Dengan penghentian sementara operasi Nasr, Iran tampak berusaha menunjukkan kendali atas eskalasi—namun peringatan terhadap Lebanon selatan jelas menunjukkan bahwa Teheran tidak lagi hanya mempertahankan diri. Mereka kini menetapkan batas wilayah yang tidak boleh dilanggar, dan siap menghancurkan apa pun yang melanggarnya. Dalam dunia yang semakin rapuh, satu langkah salah dari Israel bisa mengubah konflik lokal menjadi perang regional yang tak terkendali.

















