Sumbawanews.com,- Survei global terbaru dari Nira Data menempatkan Israel sebagai negara dengan persepsi paling negatif di dunia, dengan skor -24 dari 129 negara yang dinilai. Posisi ini mengungguli Korea Utara dan Afghanistan yang sama-sama berada di -19, serta Iran dan Amerika Serikat yang berada di -16. Data yang dihimpun dari 46.667 responden di berbagai belahan dunia mencerminkan semakin dalamnya isolasi diplomatik dan moral Israel di mata masyarakat internasional.
Krisis ini tak muncul dalam ruang hampa. Sejak meletusnya konflik berkepanjangan di Palestina, serangan militer Israel terhadap wilayah sipil—termasuk sekolah, rumah sakit, masjid, dan kamp pengungsian—telah menewaskan lebih dari 72.000 orang dan memaksa jutaan warga mengungsi. Blokade total terhadap bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza memperdalam krisis pangan yang mematikan, membuat kelaparan menjadi alat perang yang terorganisir.
Agresi ini tak terbatas pada Palestina. Israel juga melancarkan serangan udara dan rudal ke Lebanon, Suriah, Yaman, dan terakhir, Iran pada Februari lalu. Serangan terhadap target strategis di Iran menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer dan keamanan, termasuk tokoh kunci di jajaran pertahanan negara itu. Tindakan ini memicu kemarahan luas di dunia Islam dan memperkuat narasi bahwa Israel bertindak sebagai kekuatan yang mengabaikan hukum internasional.
Pengadilan Internasional dan badan-badan PBB telah mengeluarkan peringatan keras terhadap kemungkinan kejahatan perang dan pelanggaran HAM sistematis. Organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Human Rights Watch menyebut taktik militer Israel sebagai bentuk kekerasan yang tidak proporsional dan berulang. Di tengah semua ini, diplomasi global semakin terpecah: sebagian negara Barat tetap memberi dukungan politik, sementara mayoritas negara Global Selatan menuntut penghentian segera dan penegakan hukum.
Hasil survei ini bukan sekadar angka. Ia adalah cerminan kekecewaan global terhadap kegagalan sistem internasional dalam menegakkan keadilan. Di saat negara-negara besar saling bermain politik kekuasaan, rakyat biasa di Gaza, Lebanon, dan Yaman menjadi korban yang tak bersuara—dan dunia pun memilih untuk tidak lagi membiarkan keheningan itu berlanjut.

















