Sumbawanews.com,- Pada 5 Juni, sejarah dunia mencatat dua momen yang tak terlupakan: meletusnya konflik militer paling menentukan di Timur Tengah, sekaligus terungkapnya wabah mematikan yang akan mengguncang peradaban manusia.
Pada tahun 1967, ketegangan yang telah membara selama dua dekade antara Israel dan negara-negara Arab meledak menjadi Perang Enam Hari. Pada pagi hari itu, pasukan udara Israel melancarkan serangan mendadak terhadap pangkalan udara Mesir, Yordania, dan Suriah. Dalam waktu kurang dari 72 jam, Israel menguasai Semenanjung Sinai, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan. Konflik ini tidak hanya mengubah peta geopolitik Timur Tengah—ia juga menanamkan akar kebencian yang hingga kini masih menghantui perdamaian regional. Kekalahan telak tiga negara Arab memicu kehancuran politik di kawasan, sekaligus memperdalam krisis pengungsi Palestina yang hingga kini belum terselesaikan.
Sementara itu, di benua lain, sebuah laporan medis yang tampak biasa justru menjadi lonceng kematian bagi ribuan nyawa. Pada 5 Juni 1981, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat merilis laporan resmi tentang lima kasus pneumonia langka di kalangan pria homoseksual di Los Angeles. Penyakit itu, yang kemudian dikenal sebagai AIDS, disebabkan oleh virus HIV yang belum teridentifikasi. Laporan itu menjadi pengakuan pertama dunia medis terhadap wabah yang akan membunuh lebih dari 40 juta orang dalam tiga dekade berikutnya. Awalnya dianggap sebagai “penyakit gay”, stigma sosial justru memperlambat respons global—hingga akhirnya ilmuwan dan aktivis berjuang mati-matian untuk mengubah narasi, memperjuangkan akses pengobatan, dan menuntut keadilan bagi para korban.
Di balik dua peristiwa ini, tersembunyi sebuah ironi sejarah: satu konflik memecah belah bangsa-bangsa, sementara yang lain justru menyatukan umat manusia dalam penderitaan yang sama. Keduanya lahir dari ketegangan—sebagian karena kekuasaan, sebagian lagi karena ketidaktahuan. Dan keduanya, hingga kini, masih meninggalkan jejak yang dalam.
Tak jauh dari itu, pada 5 Juni 1723, Adam Smith, filsuf ekonomi Skotlandia, dilahirkan di Kirkcaldy. Karyanya, *The Wealth of Nations*, menjadi fondasi kapitalisme modern—sebuah pemikiran yang, dalam banyak hal, turut membentuk dunia tempat perang dan pandemi itu terjadi. Sejarah bukan hanya tentang kejadian besar, tapi juga tentang bagaimana ide, kekuasaan, dan ketakutan saling bertemu di titik-titik waktu yang tak terduga.

















