Home Serba Serbi Tekno Laut Indonesia Terkepung Gelombang Panas Tanpa Tanding

Laut Indonesia Terkepung Gelombang Panas Tanpa Tanding

Sumbawanews.com,- Bukan sekadar El Nino yang menghangatkan permukaan laut—kini, Samudra Pasifik tengah mengalami serangan bertubi-tubi dari tiga fenomena iklim ekstrem yang jarang terjadi bersamaan. Menurut peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kondisi ini membentuk “cincin hangat” yang melingkupi zona tengah Pasifik, tempat seharusnya air lebih dingin, dan belum pernah tercatat sekuat ini dalam empat dekade terakhir.

Erma Yulihastin, peneliti iklim BRIN, menjelaskan bahwa pemanasan subsurface—lapisan air di bawah permukaan yang suhunya naik drastis—kini meniru pola El Nino 1997, tetapi dengan kecepatan yang jauh lebih cepat. Ini dipicu oleh gelombang Kelvin, arus panas raksasa yang bergerak dari barat ke timur di sepanjang ekuator, mempercepat distribusi energi panas hingga ke perairan Peru dan sekitarnya.

Tak cukup sampai di situ, muncul pula “Blob”—fenomena gelombang panas laut yang membentuk gumpalan suhu ekstrem di selatan Amerika, jauh dari pusat El Nino. Sementara El Nino 2015 hanya mengalami Blob terpisah, tahun ini, tiga titik panas berbeda beroperasi secara serentak: di Pasifik barat dekat Indonesia, Pasifik timur laut dekat Amerika Tengah, dan Pasifik tenggara dekat Amerika Selatan. “Ini bukan lagi satu kejadian, tapi multi-fenomena yang saling memperkuat,” ujar Erma.

Widodo Setiyo Nugroho, Ahli Utama BRIN, menambahkan bahwa pola ini menciptakan lingkaran panas yang mengisolasi air dingin di tengah—sebuah anomali yang belum pernah diamati dalam skala sebesar ini sejak 1980-an. Pemanasan global yang telah meningkatkan suhu rata-rata laut 1–2°C juga turut memperparah ketidakseimbangan ini, memperluas zona panas hingga ke wilayah utara yang biasanya lebih dingin.

Ardhasena Sopaheluwakan dari BMKG menegaskan, El Nino tidak lagi bisa dipahami sebagai fenomena tunggal. “Banyak faktor yang saling terkait—gelombang Kelvin, Blob, pemanasan global, bahkan perubahan pola angin monsun. Semua ini berkolaborasi, bukan berdiri sendiri,” katanya.

Dampaknya sudah terasa: ekosistem laut mulai terganggu, ikan migrasi ke wilayah yang tidak biasa, dan risiko kekeringan ekstrem di Asia Tenggara semakin mengancam. Ilmuwan memperingatkan, jika pola ini berlanjut, kemungkinan besar kita akan menyaksikan Super El Nino—level tertinggi yang belum terjadi sejak 1997—bukan sebagai kejadian langka, tapi sebagai “normal baru” di era iklim yang kian tak terduga.

Previous articleJelang Pelimpahan, KPK Periksa Ulang Yaqut Cholil Qoumas
Next articleJosé Ramos-Horta: Batik sebagai Jembatan Budaya
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik