Sumbawanews.com,- Warga Suku Tengger memenuhi lereng Gunung Bromo pada Senin, 1 Juni 2026, dalam ritual tahunan Yadnya Kasada—sebuah persembahan sakral kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur. Dengan langkah penuh khidmat, ratusan warga dari berbagai desa di Probolinggo, Pasuruan, dan sekitarnya membawa sesaji berupa hasil bumi: beras, sayuran, buah-buahan, hingga unggas, lalu melemparkannya ke dalam kawah aktif Gunung Bromo.
Ritual yang berlangsung di ketinggian lebih dari 2.300 meter itu bukan sekadar tradisi, tapi pernyataan keharuan akan ketergantungan manusia pada alam. Setiap sesaji yang dilempar menjadi simbol rasa syukur atas panen yang melimpah, sekaligus permohonan perlindungan atas bencana alam yang kerap mengancam wilayah pegunungan ini. Di tengah kabut pagi yang menyelimuti puncak, suara mantra dan doa dari para pemangku adat mengalun pelan, menyatu dengan desisan angin yang berhembus dari celah-celah batu vulkanik.
Puncak upacara terjadi saat matahari mulai menembus cakrawala. Para tetua adat, mengenakan pakaian putih khas Tengger, memimpin prosesi dengan membawa persembahan dalam anyaman daun pisang. Tak ada keramaian, tak ada hingar-bingar wisatawan—kawasan Bromo sengaja ditutup selama tiga hari, dari 30 Mei hingga 2 Juni, sebagai bentuk penghormatan terhadap kesakralan ritual yang telah berlangsung sejak abad ke-15.
“Ini bukan persembahan untuk tuhan, tapi untuk nenek moyang yang menjaga tanah ini,” ujar Mbah Suryo, seorang dukun adat berusia 78 tahun dari desa Ranu Pani. “Kami percaya, jika sesaji tidak sampai ke kawah, maka tahun ini akan ada kekeringan, atau tanaman mati sebelum panen.”
Ritual ini juga menjadi bukti ketahanan budaya. Di tengah arus modernisasi, Suku Tengger tetap mempertahankan kepercayaan animisme-dinamisme yang mengakar kuat, bahkan di tengah dominasi agama Hindu yang lebih luas di Jawa Timur. Setiap tahun, sebelum Yadnya Kasada, mereka menjalani serangkaian ritual pembersihan diri—Melasti—di sumber air suci, lalu berpuasa selama tiga hari.
Pemerintah daerah dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) turut mendukung pelestarian tradisi ini dengan membatasi akses wisatawan, menyediakan posko kesehatan, dan mengamankan jalur pendakian. Polres Probolinggo mengerahkan puluhan personel untuk menjaga ketertiban, tanpa mengganggu esensi spiritual acara.
Di balik asap dan debu vulkanik, ada satu kebenaran yang tak tergoyahkan: di puncak gunung yang dahsyat, manusia tetap kecil. Dan dalam kekecilan itulah, mereka menemukan kekuatan—melalui tradisi, melalui persembahan, melalui doa yang tak pernah pudar.















