Sumbawanews.com,- Jakarta –
Jemaah yang berencana menunaikan salat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Istiqlal, Rabu (27/5/2026), diminta mempersiapkan diri secara matang. Ibadah akbar yang menjadi simbol keagungan kebangsaan ini akan dimulai pukul 07.00 WIB, dan pengelola masjid telah merilis enam panduan utama serta pembagian gerbang masuk khusus untuk memastikan kelancaran, keamanan, dan khusyuknya ibadah.
Pertama, semua jemaah wajib mengenakan pakaian yang sopan dan menutup aurat sesuai syariat. Kedua, membawa peralatan salat pribadi—sajadah dan mukena—dianjurkan untuk menghindari penggunaan fasilitas umum yang terbatas. Ketiga, setiap orang diharapkan membawa kantong plastik sendiri untuk menyimpan sepatu atau sandal, guna menjaga kebersihan lantai masjid. Keempat, membawa barang bawaan secukupnya saja; menghindari tas besar atau barang berlebihan demi kenyamanan bersama. Kelima, jemaah diminta selalu waspada terhadap barang pribadi, terutama di kerumunan padat. Terakhir, semua pihak diimbau turut menjaga ketertiban, kebersihan, dan kekhusyukan ibadah—bukan hanya sebagai kewajiban, tapi sebagai bentuk kepedulian sosial.
Untuk mengurai kepadatan, pengelola Masjid Istiqlal menetapkan empat gerbang masuk khusus berdasarkan lokasi kedatangan. Gerbang 2 Al-Ghaffar, yang berada di seberang Pertamina, khusus untuk pejalan kaki. Gerbang 3 Al-Aziz, di depan Kemenag dan SMPN 04 Jakarta, melayani pejalan kaki sekaligus kendaraan roda dua dan empat yang akan parkir di basement. Gerbang 5 Al-Fattah, berhadapan dengan Gereja Katedral, dibuka khusus bagi jemaah yang datang berjalan kaki. Sementara Gerbang 6 Al-Mukmin, di dekat Tugu Adipura, juga difungsikan sebagai akses pejalan kaki. Pengelola menyarankan jemaah memilih gerbang terdekat dengan titik keberangkatan untuk menghindari kemacetan dan perjalanan jauh di tengah panas.
Pihak masjid juga mengingatkan agar jemaah tidak datang terlalu dekat dengan waktu salat. Kehadiran lebih awal tidak hanya membantu menghindari antrean, tetapi juga memberi ruang untuk menyiapkan diri secara spiritual. Selain itu, Menag sebelumnya telah mengimbau umat untuk mengambil wudu di rumah demi mengurangi beban fasilitas umum.
Dengan kapasitas yang terbatas dan antusiasme jemaah yang tinggi, kerja sama antara pengelola dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan ibadah ini. Salat Idul Adha di Istiqlal bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga refleksi solidaritas, disiplin, dan kebersamaan umat Islam Indonesia.
**(kny/zap)**















