Di atas kertas, tulang punggung ekonomi NTB masih sangat bergantung pada tambang emas dan smelter milik PT Aman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang berada di Sumbawa Barat. Ironis, justru tingkat kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten ini pada akhir 2025, 10,98% dan 4,13 % (Data BPS).
Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) dua hari lalu mencatat pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2026 dibanding triwulan I 2025 (y on y), 13,64% jauh di atas Nasional. Sektor yang mencatat pertumbuhan fantastis adalah pengolahan. Mari kita lihat lebih dekat:
Pegoalahan yang dicatat oleh BPS adalah mulai berproduksinya Smelter (pabrik pengolahan emas milik PT AMNT) walaupun belum full kapasitas. Sektor pengolahan di luar itu tidak ada pergerakan kenaikan signifikan. Pertumbuhan kedua 31,80 % terjadi pada pertambangan (PT AMNT), setelah mendapat ijin ekspor pada tengah tahun 2025.
Hal tersebut menunjukkan bahwa di atas kertas tulang punggung ekonomi NTB masih sangat bergantung pada tambang dan sektor pengolahannya. Sektor ini berada diurutan kedua berkonstribusi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setelah pertanian.
Semangat ingin melakukan transformasi, dengan menaikkan konstribusi pengolahan pada sektor terbarukan, pertanian (kehutanan, perkebunan dan perikanan) perlu diapresiasi. Memang terjadi kenaikan pada produksi pertanian yang tumbuh 10,31%.
Lompatan apa yang telah terjadi dalam kurun waktu setahun dalam menaikkan kontribusi di luar tambang ? nyaris tidak ada selain 2 sektor yang menjadi andalan selama lebih dari seperempat abad yakni Pertanian (bahan mentah) dan Pertambangan.
Di atas adalah catatan pertumbuhan. Sekarang mari kita lihat kontribusinya terhadap PDRB dari harga berlaku. Posisi pertama dan kedua belum tergantikan yakni pertanian 22,23 % dan Pertambangan 19,71 %. Pertanian yang dimaksud adalah komoditas mentah belum diolah. Adapun pariwisata (penyediaan akomodasi makan dan minum) yang menjadi sektor perioritas pengembangan tecatat 2,63 % masih jauh untuk menjadi andalan.
Kendatipun mencatat kontribusi kedua terbesar, apakah sesungguhnya riel uang dari tambang beredar di daerah ? Setidaknya Sumbawa Barat ? Uang yang benar-benar beredar di KSB adalah gaji karyawan yang sebagian besar non skill. Serta bagi hasil 2% dari keuntungan perusahaan yang dibagi setiap tahun. Jumlahnya fluktuatif.
Ada pun kebutuhan sandang pangan dan papan atau belanja operasional perusahaan masih didatangkan dari luar daerah. UMKM dan pengusaha setempat belum dapat menjadi andalan pengadaan.
Efek pegadaan kebutuhan operasional sehari-hari nilainya besar, mustinya dapat memberikan efek pada peningkatan ekonomi daerah. Dalam ilmu ekonomi ini disebut kebocoran regional (regional leakage). Akibatnya tingkat kemiskinan di KSB 10,98%. Pengangguran 4,13 %. Dalam bahsaa sederhana inilah wajah kemiskinan dan pengangguran di tambang emas kedua terbesar di Indonesia (Mada Gandhi)

















