Sumbawanews.com,- Puncak dua hujan meteor, Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids, akan terjadi bersamaan pada malam 30–31 Juli 2026, menandai dimulainya musim hujan meteor tahun ini. Meski fenomena ini bisa dinikmati tanpa alat bantu, kondisi pengamatan diperkirakan kurang ideal karena cahaya Bulan yang hampir purnama, dengan kecerahan mencapai 98 persen. American Meteor Society menjelaskan, meski jumlah meteor yang muncul tidak berkurang, cahaya Bulan yang terang akan menyulitkan visibilitas meteor-meteor bercahaya redup, terutama dari Southern Delta Aquariids yang biasa menghasilkan sekitar 25 meteor per jam dalam kondisi langit gelap. Sementara itu, Alpha Capricornids, yang hanya memunculkan sekitar lima meteor per jam, dikenal sering menghasilkan fireball—benda langit yang terbakar dengan cahaya sangat terang saat memasuki atmosfer Bumi.
Waktu terbaik untuk mengamati kedua hujan meteor ini adalah antara tengah malam hingga menjelang fajar, ketika Southern Delta Aquariids berada di titik tertinggi langit bagian selatan. Para pengamat disarankan mencari lokasi dengan minim polusi cahaya, memposisikan Bulan di belakang tubuh atau terhalang oleh bangunan, pepohonan, atau bukit untuk mengurangi gangguan cahaya. Pengamatan paling efektif dilakukan dengan mata telanjang, tanpa teleskop atau binokular.
Jika gagal menyaksikan puncaknya akhir Juli, peluang berikutnya datang pada 12–13 Agustus 2026, saat hujan meteor Perseid mencapai puncaknya bersamaan dengan fase bulan baru, memungkinkan pengamatan hingga 100 meteor per jam. Pada waktu yang sama, gerhana Matahari total juga akan melintasi Greenland timur, Islandia barat, dan Spanyol utara, sementara sebagian wilayah Kanada dan timur laut Amerika Serikat akan menyaksikan gerhana sebagian.















