Sumbawanews.com, SERBA-SERBI – Pulau Moyo tidak hanya dikenal karena kemewahan alam dan air terjun Mata Jitu yang legendaris. Di salah satu sudut pesisirnya, terdapat sebuah fenomena alam yang hingga kini masih mengundang tanya: sebuah sumur kecil yang terletak tepat di batas air pasang, namun airnya tetap tawar dan jernih.
Fenomena di Sela Karang Tajam
Sumur yang oleh warga lokal sering disebut sebagai “Sumur Ajaib” ini sekilas hanya tampak seperti lubang kecil di antara bebatuan karang pesisir. Namun, keajaibannya muncul saat air laut pasang tinggi dan menerjang lubang tersebut. Logikanya, air di dalamnya akan berubah menjadi payau atau asin.
“Anehnya, begitu ombak surut, air di dalam lubang itu kembali tawar seketika. Kami sering menggunakannya untuk membasuh muka atau sekadar minum saat memancing di sekitar sini,” ungkap Hamzah, seorang nelayan lokal yang sering melintas di area tersebut.
Mitos Sang Penjaga Pulau
Bagi masyarakat asli Pulau Moyo, keberadaan sumber air tawar ini bukan sekadar kebetulan geologis. Ada kepercayaan turun-temurun bahwa mata air tersebut adalah “pemberian” dari leluhur untuk para pelaut yang kehabisan bekal air minum di tengah laut.
Beberapa warga bahkan meyakini air tersebut memiliki khasiat menyembuhkan, terutama jika diambil pada waktu-waktu tertentu. Inilah yang membuat sumur ini sering dikunjungi oleh wisatawan yang penasaran dengan sisi spiritual Pulau Moyo.
Penjelasan Ilmiah: Lensa Ghyben-Herzberg?
Meski dibalut mitos, para ahli geologi punya penjelasan teknis. Fenomena ini diduga terjadi karena adanya Lensa Air Tawar (Lensa Ghyben-Herzberg). Di bawah tanah pulau, air tawar yang berasal dari hujan memiliki massa jenis yang lebih ringan dibandingkan air laut, sehingga ia “mengapung” di atas air asin.
Melalui celah karang, tekanan hidrolik dari daratan mendorong air tawar ini keluar ke permukaan pantai. Karena tekanannya yang stabil, air laut tidak mampu mencemari kemurnian sumber mata air tersebut secara permanen.

















