Home Serba Serbi Tekno Tempo Hidupkan Arsip Jurnalistik dengan AI

Tempo Hidupkan Arsip Jurnalistik dengan AI

Sumbawanews.com,- Jakarta – Selama lebih dari lima dekade, Tempo menyimpan jejak jurnalistik Indonesia dalam bentuk ribuan laporan investigasi, foto, video, audio, infografik, hingga arsip cetak yang telah didigitalisasi. Tapi di era di mana informasi bergerak cepat dan pembaca menginginkan jawaban instan, menyimpan bukan lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah cara agar arsip-arsip itu bisa dicari, dipahami, dan diakses seolah-olah hidup bersama zaman.

Untuk itulah Tempo meluncurkan dua inisiatif teknologi yang tidak sekadar modern, tapi revolusioner: Digital Asset Management (DAM) dan Tempo Assistant—sebuah chatbot berbasis kecerdasan buatan yang dirancang bukan untuk menggantikan jurnalis, tapi untuk memperkuatnya.

DAM adalah sistem terpusat yang menggabungkan seluruh aset editorial Tempo sejak 1971 ke dalam satu platform. Sebelumnya, foto-foto dari era analog, naskah liputan tahun 2000-an, hingga rekaman wawancara digital tersimpan di berbagai sistem yang terpisah, seringkali tak terhubung. Kini, setiap aset dilengkapi metadata cerdas—mengenal tokoh, lokasi, waktu, dan konteks—sehingga seorang jurnalis bisa mencari “kunjungan Jokowi ke daerah konflik pada 2019” dan langsung mendapatkan foto, artikel, serta video terkait, tanpa harus menggali arsip manual selama berjam-jam.

“Ini bukan sekadar penyimpanan. Ini adalah penghidupan kembali memori jurnalistik,” kata Heru Tjatur, Chief Technology Officer Tempo. “AI membantu mengenali wajah, mentranskripsi suara, dan menghubungkan peristiwa. Tapi keputusan editorial tetap di tangan manusia. Kami tidak membiarkan mesin menulis berita—hanya membantu menemukan yang sudah ditulis.”

Sistem ini mulai dikembangkan sejak 2025 dan kini sedang diuji coba bertahap di berbagai redaksi. Tujuannya jelas: memangkas waktu yang selama ini terbuang untuk pencarian arsip, agar jurnalis bisa fokus pada analisis mendalam, investigasi baru, dan narasi yang lebih bermakna.

Paralel dengan DAM, Tempo Assistant hadir sebagai jawaban atas perubahan perilaku pembaca. Bukan lagi sekadar membaca artikel satu per satu, pembaca kini ingin bertanya, berdialog, dan mendapatkan ringkasan kontekstual. Chatbot ini memungkinkan mereka menanyakan: “Bagaimana perkembangan suku bunga BI tahun ini?” atau “Apa saja laporan Tempo soal korupsi di sektor pendidikan sejak 2020?”

Yang membuat Tempo Assistant berbeda dari chatbot biasa adalah prinsip kehati-hatian: ia hanya menjawab berdasarkan arsip Tempo yang terverifikasi, menggunakan teknologi Retrieval-Augmented Generation (RAG). Artinya, ia tidak boleh berimajinasi. Jika tidak ada sumber yang memadai, ia akan berkata, “Informasi ini tidak tersedia dalam arsip Tempo.” Setiap jawaban dilengkapi tautan langsung ke artikel aslinya—menghormati integritas jurnalistik dan memastikan transparansi.

“Kami tidak ingin menjadi sumber hoaks yang terlihat cerdas,” kata Rianda Zulhamjani, Deputy CTO Tempo. “Kami ingin menjadi sumber kebenaran yang bisa diajak bicara.”

Kedua proyek ini tidak hanya mengubah cara Tempo bekerja, tapi juga menempatkannya di panggung global. Tempo terpilih sebagai salah satu dari sebelas media di dunia yang terlibat dalam JournalismAI Innovation Challenge, didukung Google News Initiative, karena inovasinya yang seimbang antara teknologi dan etika jurnalistik.

Dalam jangka panjang, DAM akan berkembang menjadi knowledge graph—jaringan cerdas yang menghubungkan tokoh, peristiwa, dan isu lintas waktu. Tempo Assistant pun diharapkan menjadi gerbang personal bagi pembaca untuk mengeksplorasi pengetahuan jurnalistik seolah-olah berbicara dengan sejarawan yang menguasai seluruh arsip Tempo.

Dan jika berhasil, model ini bisa menjadi rujukan bagi media lain, lembaga pendidikan, atau bahkan arsip negara yang berjuang menyelamatkan memori kolektifnya dari kepunahan digital.

Tempo tidak mencoba menggantikan jurnalis dengan AI. Ia justru memakai teknologi untuk memastikan bahwa jurnalisme yang telah dibangun selama 55 tahun—penuh risiko, ketekunan, dan keberanian—tidak menjadi fosil di gudang data. Ia ingin arsip itu tetap hidup, tetap relevan, dan tetap bisa diajak bicara.

Previous articleBrimob PMJ Gagalkan Tawuran, Sita Senjata Tak Biasa
Next articleBengkoknya Bola Sepak: Rahasia Fisika di Balik Kurva Memukau
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.