Home Serba Serbi Tekno Suit Baru NASA dan Prada Selamatkan Nyawa di Bulan

Suit Baru NASA dan Prada Selamatkan Nyawa di Bulan

Sumbawanews.com,- Di permukaan Bulan, tanpa perlindungan, tubuh manusia akan mati dalam hitungan menit. Udara menguap, darah mendidih, dan paru-paru robek oleh tekanan vakum. Untuk bertahan hidup, astronot Artemis III dan IV akan mengenakan sistem pakaian luar angkasa tercanggih yang pernah dibuat—dirancang oleh Axiom Space, dengan sentuhan tak terduga dari merek mode Italia, Prada.

Di balik kulit putih tebal yang terlihat di layar televisi, tersembunyi lapisan dalam yang justru menjadi kunci kelangsungan hidup. Disebut Liquid Cooling and Ventilation Garment (LCVG), pakaian ini bukan sekadar pakaian dalam biasa. Dibuat dengan teknik rajutan canggih yang menyerupai kostum superhero Marvel, LCVG dilengkapi jaringan halus selang-selang yang mengalirkan air dingin di sepanjang otot-otot utama tubuh. Fungsinya? Menyerap panas tubuh yang tak bisa hilang di ruang hampa. Tanpa sistem ini, astronot akan mengalami heatstroke dan kegagalan organ dalam hitungan menit—terutama saat berjalan di permukaan Bulan yang memaksa aktivitas fisik intens. Sistem pendingin ini memiliki cadangan ganda, memastikan keamanan bahkan jika satu jalur gagal.

Lalu, mengapa Prada? Bukan karena gaya semata. Axiom mengakui keahlian Prada dalam teknologi rajutan presisi tinggi dan kapasitas produksi industri yang langka. Tapi tak bisa dipungkiri, kehadiran Chief Marketing Officer Prada di acara peluncuran bukan kebetulan. Penampilan pakaian yang futuristik—bukan seperti piyama bertube—membantu membangun dukungan publik dan pendanaan, yang vital bagi misi luar angkasa.

Di lapisan luar, pakaian bernama AxEMU (Axiom Extravehicular Mobility Unit) berperan sebagai perisai hidup. Ia menjaga tekanan internal setara dengan atmosfer Bumi, mencegah cairan dalam tubuh menguap dan darah membentuk gelembung mematikan. Material putihnya tidak hanya mencerminkan panas matahari, tapi juga melindungi dari debu Bulan yang beracun dan bisa menetap di paru-paru selama berbulan-bulan. Sistem ventilasi terintegrasi mengalirkan oksigen segar ke helm, sekaligus menyedot karbon dioksida yang dihembuskan astronot—mengirimkannya ke ransel pendukung kehidupan (PLSS) untuk disaring dan didaur ulang. Sistem ini juga redundan, dengan cadangan otomatis jika terjadi kegagalan.

AxEMU dirancang untuk misi hingga delapan jam, dan yang paling revolusioner: ia bisa menyesuaikan bentuk tubuh dari 1% hingga 99% populasi pria dan wanita—sebuah lompatan besar dari pakaian kustom era Apollo yang hanya cocok untuk beberapa individu. Helm dan visornya dilapisi pelindung khusus untuk memperjelas penglihatan di cahaya Bulan yang keras, sementara sarung tangan buatan in-house menawarkan fleksibilitas dan ketahanan jauh melampaui generasi sebelumnya.

Misi Artemis III, dijadwalkan tahun 2027, akan menguji pakaian ini di orbit Bumi sebelum misi utama: Artemis IV pada 2028, yang akan membawa manusia pertama mendarat di Bulan sejak Apollo 17 pada 1972. Misi ini juga sekaligus eksplorasi pertama di kutub selatan Bulan—wilayah dengan suhu ekstrem hingga minus 230 derajat Celsius, tempat astronot akan mencari es air yang mungkin menjadi sumber kehidupan masa depan. Pakaian ini dirancang untuk bertahan di suhu terdingin itu selama minimal dua jam.

Tak peduli apakah mereka menemukan es atau tidak, satu hal pasti: astronot yang berjalan di Bulan akan terlihat seperti pahlawan dari masa depan—bukan karena kostumnya yang keren, tapi karena setiap jahitan, selang, dan lapisan di dalamnya adalah hasil teknologi yang dirancang untuk menjaga nyawa manusia di tempat paling kejam di tata surya.

Previous articleIndonesia Darurat Ekonomi, Mahasiswa Turun Jalan
Next articleTarif Transjabodetabek Tidak Naik Serentak
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.