Sumbawanews.com,- Satelit NASA mendeteksi letusan gunung api bawah laut di Laut Bismarck, utara Papua Nugini, pada 8 Mei 2026, setelah seismometer mencatat serangkaian gempa kecil. Aktivitas vulkanik ini memicu gumpalan uap dan abu yang membumbung ke atmosfer, teramati oleh satelit Aqua dan Terra, sementara sensor PACE mendeteksi perubahan warna perairan dan anomali termal seluas tujuh kilometer persegi. Para ilmuwan belum mengidentifikasi pasti gunung api sumber letusan, tetapi menduga aktivitasnya terkait dengan Titan Ridge, sekitar 16 kilometer dari lokasi letusan serupa pada 1972. Kondisi tersebut memunculkan kemungkinan terbentuknya pulau baru jika material vulkanik terus menumpuk hingga muncul di permukaan laut.
Pengamatan dari satelit Sentinel-2, Landsat 9, dan VIIRS pada Suomi NPP memperkuat temuan adanya jejak inframerah, gumpalan abu, dan batu apung terapung yang terbawa arus. Kepala Ilmuwan NASA Goddard Space Flight Center Jim Garvin menyatakan fenomena ini membuka peluang besar untuk penelitian menggunakan platform satelit yang sudah ada. Ahli vulkanologi Simon Carn dari Michigan Tech menekankan bahwa banyaknya anomali termal menunjukkan material panas berada sangat dekat dengan permukaan laut—jauh lebih dangkal daripada yang diprediksi data batimetri. Ia menambahkan, letusan ini terjadi di zona pemekaran belakang busur, yang umumnya menghasilkan aktivitas lebih lemah dibandingkan gunung api di zona subduksi, sehingga diperkirakan tidak akan sekuat letusan Hunga Tonga-Hunga Ha’apai 2022 atau Fukutoku-Okanoba 2021.
Tim peneliti akan terus memantau perkembangan letusan melalui satelit radar NISAR milik NASA-ISRO dan RADARSAT Constellation Mission milik Kanada. Jika pulau baru benar-benar terbentuk, kawasan ini berpotensi menjadi laboratorium alam untuk mempelajari kolonisasi kehidupan, pelapukan, dan perubahan bentuk daratan akibat erosi. “Ini bisa menjadi kesempatan yang lebih baik untuk eksplorasi ‘island-naut’ saat kami bersiap kembali ke Bulan melalui misi Artemis IV,” ujar Garvin.















