Sumbawanews.com,- Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali meletus pada Selasa, 2 Juni 2026, pukul 07.55 WIT, dengan kolom abu vulkanik mencapai ketinggian 1,3 kilometer di atas puncak. Letusan yang teramati oleh Pos Pengamatan Gunung Dukono ini menghasilkan kepulan abu berwarna putih hingga kelabu yang mengarah ke sektor timur, disertai getaran dengan amplitudo maksimum 34 milimeter dan durasi 43,67 detik, tercatat jelas pada seismogram.
Sehari sebelumnya, gunung berapi setinggi 1.087 meter di atas permukaan laut itu juga mengeluarkan abu hingga 900 meter, menandai serangkaian aktivitas vulkanik yang kian intensif. Sejak Januari 2026, Dukono telah meletus 157 kali, menjadikannya gunung api paling aktif ketiga di Indonesia setelah Merapi dan Ibu.
Badan Geologi tetap mempertahankan status waspada (Level II) terhadap gunung ini. Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan larangan bagi masyarakat dan pendaki untuk mendekati kawasan kawah Malupang dan Warirang dalam radius empat kilometer. “Kami menyarankan warga sekitar selalu menyediakan masker atau penutup hidung untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat hujan abu,” ujarnya.
Dukono, yang bertipe stratovolcano dengan kompleks kawah majemuk, meletus dengan pola strombolian-vulcanian—letusan kecil hingga menengah yang berulang dan disertai pelepasan abu secara konsisten. Aktivitasnya dipicu oleh pergerakan Lempeng Laut Maluku, bagian dari busur vulkanik Halmahera yang telah aktif sejak 1933. Gunung ini merupakan salah satu dari beberapa gunung di Indonesia yang terbentuk di pertemuan tiga lempeng tektonik besar: Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia.
Meski tidak ada laporan kerusakan atau korban jiwa dalam letusan terbaru ini, potensi bahaya abu vulkanik tetap menjadi perhatian utama. Wilayah-wilayah di sekitar Dukono, termasuk Desa Mamuya di Kecamatan Galela, telah berulang kali terkena hujan abu, mengganggu aktivitas sehari-hari dan memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan pertanian.
Pemantauan terus dilakukan secara intensif oleh petugas di lapangan, sementara masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi. Dengan status waspada yang telah berlangsung sejak 2008, Dukono menjadi salah satu gunung api paling dinamis dan menantang dalam sistem pemantauan vulkanik nasional.















