Sumbawanews.com,- Aplikasi bernama Android Pulse tiba-tiba muncul di daftar pembaruan Google Play Store, memicu kekhawatiran pengguna karena tidak menampilkan ikon resmi, hanya berupa kotak kosong. Menurut pantauan Tekno Liputan6.com pada 23 Agustus 2026, aplikasi ini tidak terlihat di Play Store wilayah Indonesia, kemungkinan hanya tersedia untuk perangkat tertentu. Google mengonfirmasi bahwa Android Pulse adalah alat resmi untuk diagnosis sistem, bukan malware. Aplikasi ini berjalan di latar belakang tanpa antarmuka pengguna, bertugas memantau konsumsi sumber daya kritis seperti baterai, CPU, dan RAM untuk mendeteksi anomali pada sistem operasi Android dan aplikasi yang terinstal.
Selain itu, tren konten buatan kecerdasan buatan (AI) semakin mendominasi halaman web. Studi Pew Research yang menganalisis hampir 500.000 halaman berbahasa Inggris selama lima tahun terakhir, menggunakan alat pendeteksi AI Open Pangram, menemukan indikasi kuat bahwa sebagian besar konten online kini dihasilkan oleh bot. Temuan ini memperkuat teori “Dead Internet” yang menyatakan aktivitas internet akan semakin dikuasai oleh mesin, bukan manusia.
Di sisi lain, persidangan di California, Amerika Serikat, mengungkap dugaan bahwa Meta sengaja mengabaikan keselamatan anak di platformnya. Arturo Béjar, mantan insinyur keselamatan Meta, bersaksi bahwa perusahaan menerapkan kebijakan “jangan tanya, jangan beri tahu” terkait konten berbahaya yang muncul di feed pengguna muda, termasuk kekerasan dan materi seksual. Béjar menilai klaim Meta bahwa keselamatan pengguna diutamakan justru bertolak belakang dengan praktik nyata, dan menyebut CEO Mark Zuckerberg menciptakan kesan palsu tentang komitmen perusahaan terhadap anak-anak.















