Sumbawanews.com,- Di tengah heningnya dini hari selama Ramadan, Ameer Al-Khatahtbeh duduk berdampingan dengan teman-temannya di sebuah kedai kopi Yaman di New York, suasana ramai penuh canda tawa dan kafein. Tiba-tiba, ponselnya bergetar: berita pecah—Israel menyerang Tehran. Ia menatap sekeliling, lalu langsung mengetik dan mempublikasikan postingan. “Kamu baru saja posting?” tanya teman-temannya. Ia meminta maaf, lalu pulang untuk menyaksikan berita itu secara lebih mendalam.
Itulah rutinitas sehari-hari Ameer, pria 27 tahun yang kini menjadi tulang punggung akun @Muslim—media sosial dengan lebih dari 12 juta pengikut lintas platform, termasuk 6,7 juta di Instagram saja. Ia pernah mewawancarai tokoh-tokoh seperti Zohran Mamdani, Riz Ahmed, Mo Amer, hingga jurnalis Palestina Motaz Azaiza.
Semua bermula saat Donald Trump menjabat presiden. Saat itu, Ameer masih mahasiswa di Rutgers University, bercita-cita menjadi jurnalis hiburan. Ia menyaksikan dampak kebijakan larangan Muslim Trump melalui teman sekamarnya yang berasal dari Yaman dan Iran. Ketika ia mencoba menulis tentang bagaimana kebijakan itu mengancam keamanan mahasiswa Muslim di kampus, ia menyadari tidak ada media yang mampu menyampaikan peringatan itu secara tepat sasaran. Maka, ia memutuskan membuat ruang sendiri: media untuk Muslim, oleh Muslim.
Ia menghabiskan rata-rata 13 jam sehari di depan layar. “Saya malu mengakuinya,” katanya, “tapi ini kebutuhan.” Ia tidak bisa membiarkan diri terlewat dari informasi—karena ia adalah satu-satunya yang bertanggung jawab atas semua postingan, tweet, dan thread yang muncul di @Muslim. “Saya mendapat berita sama seperti Anda. Jika ada serangan di Lebanon atau konflik di Sudan, saya mendengarnya persis saat Anda mendengarnya.”
Tapi tidak semua orang adalah editor-in-chief media Muslim global.
Ketika @Muslim diluncurkan pada 15 Februari 2019, Ameer masih kuliah. Ia menggabungkan gaya jurnalisme digital yang ringan, cepat, dan penuh referensi budaya pop—mirip konten Vice News—namun dengan fokus pada kisah-kisah Muslim. Kontennya dirancang agar bisa dipahami oleh anak SD sekalipun, sekaligus orang tua yang belum terbiasa dengan media sosial. Hasilnya? Dalam waktu satu tahun, akunnya sudah mencapai 50.000 pengikut. Saat pandemi melanda dan Ramadan pertama di masa lockdown, ia memanfaatkan momen itu untuk terus mempublikasikan konten—menggantikan kegiatan ibadah dan perayaan yang tak bisa dilakukan secara fisik. Di sinilah @Muslim meledak. Saat lulus pada 2020, pengikutnya telah mencapai 250.000.
“Saya sadar ini bukan sekadar hobi,” katanya. “Ini sesuatu yang lebih besar.”
Tapi keberhasilan itu datang dengan harga mahal. Konten yang dulu penuh meme, tantangan TikTok, dan obrolan ringan tentang Billie Eilish yang memakai pakaian sopan kini harus berubah. Setelah 7 Oktober 2023, ketika konflik Gaza meletus, Ameer memutuskan untuk menghentikan semua konten hiburan. “Saya bilang ke tim, ‘Kita tidak bisa mempromosikan “Muslims Play Truth or Drink” sekarang. Kita harus fokus pada Palestina.’” Dan begitulah—setiap hari, setiap jam, ia memilih untuk melaporkan berita yang diabaikan media arus utama. Dalam waktu kurang dari setahun, pengikut Instagram @Muslim melonjak dari 2 juta menjadi hampir 7 juta.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya konten—tapi akses. Di India, akun @Muslim diblokir tanpa penjelasan. Ameer tidak pernah membuat postingan tentang India, tapi pemerintah setempat mengeluarkan perintah darurat berdasarkan Pasal 69A UU Teknologi Informasi 2000. Meta menolak memberi tahu siapa yang mengajukan permintaan itu, atau alasannya. “Saya korban dari perintah hukum yang tidak bisa saya lihat, tidak bisa saya ajukan banding, dan tidak bisa saya lawan,” ujarnya. India adalah salah satu pasar terbesar @Muslim. Setelah blokir, pertumbuhan pengikutnya terhenti—padahal sebelumnya terus naik setiap bulan.
Ameer membagi audiensnya menjadi tiga kelompok: Muslim tradisional yang menjalankan ibadah lima waktu, Muslim budaya yang identitasnya terikat pada agama meski tidak aktif beribadah, dan non-Muslim yang mengikuti @Muslim karena mereka percaya ini satu-satunya sumber informasi yang akurat tentang komunitas Muslim. “Kami dianggap seperti sahabat Muslim terbaik,” katanya.
Timnya? Hanya dua orang: ia dan Tuba, yang mengelola TikTok. Selebihnya, ia mengandalkan jaringan teman dan kontraktor. Tidak ada kantor, tidak ada tim besar. Hanya seorang pria muda yang bekerja 13 jam sehari, mengelola semua platform, dan menghadapi tekanan tak terlihat: bahwa satu kesalahan bisa menghancurkan kepercayaan 12 juta orang.
Ia tahu, ini bukan hanya soal akun Instagram. Ini soal hak atas informasi. “Orang mungkin tidak peduli jika sebuah halaman Instagram diblokir di India,” katanya. “Tapi ini menghalangi 330 juta Muslim dari akses ke berita yang mereka butuhkan. Dan itu berbahaya—karena jika satu negara bisa membungkam kami, siapa yang berikutnya?”















