Sumbawanews.com,- Kenaikan permukaan laut hingga 56 sentimeter pada 2050 diprediksi akan menenggelamkan 1.500 pulau kecil di Indonesia—sebuah ancaman eksistensial yang tak lagi bisa diabaikan. Di tengah krisis iklim yang semakin mengganas, Telkomsel tak lagi sekadar menjadi penyedia layanan telekomunikasi, tapi bertransformasi menjadi pelopor aksi lingkungan berskala nasional.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu lingkungan abstrak, melainkan realitas visual yang terlihat jelas: langit biru Singapura yang kontras dengan kabut polusi pekat di udara Jakarta. “Ini bukan soal estetika. Ini soal kelangsungan hidup,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran Laporan Keberlanjutan 2025 di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Langkah perusahaan pun melampaui kampanye hijau biasa. Telkomsel memulai transformasi radikal dengan menanam jutaan pohon di kawasan rawan abrasi dan membangun infrastruktur telekomunikasi berbasis energi terbarukan. Produk Green Home, solusi rumah pintar berpanel surya, diluncurkan untuk mengurangi ketergantungan rumah tangga terhadap listrik fosil—sekaligus menjadi model bagi masyarakat luas.
Namun, ancaman terbesar bukan hanya di kota. Komisaris Utama Telkomsel, Diaz F.M. Hendropriyono, memaparkan data ilmiah yang menggemparkan: proyeksi dari lembaga riset internasional seperti Michael Kovach’s Research Works memperkirakan 1.500 pulau kecil akan hilang jika suhu global naik 2 derajat Celsius. Angka ini akan melonjak menjadi 1.615 pulau pada 2100 jika kenaikan muka air laut mencapai 90 sentimeter.
Realitasnya sudah terasa. Di Papua, suhu ekstrem mencapai 38,4 derajat Celsius pada Oktober 2024—rekor tertinggi sepanjang sejarah nasional. Es abadi di Gunung Jaya Wijaya, yang pada 2010 masih tebal 32 meter, kini menyusut hingga nyaris lenyap. World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan: tahun-tahun mendatang akan menjadi yang terpanas dalam sejarah manusia.
“Kita tidak bisa menunggu pemerintah bertindak sendiri,” kata Wong Soon Nam, Direktur Planning and Transformation Telkomsel. “Kekayaan alam Indonesia adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula kewajiban untuk menjaganya.”
Telkomsel pun menetapkan tiga pilar keberlanjutan: Jaga Bumi, Jaga Cita, dan Jaga Data. Pilar pertama menekankan aksi nyata terhadap perubahan iklim; pilar kedua memperkuat pendidikan lingkungan dan kesadaran sosial; sementara pilar ketiga memastikan teknologi digital tidak menjadi beban ekologis melalui efisiensi energi dan pengelolaan data berkelanjutan.
Pada 11 Juni 2026, perusahaan akan merilis laporan keberlanjutan pertamanya secara komprehensif—mengungkap pencapaian ESG (Environmental, Social, Governance) selama tiga tahun terakhir. Ini bukan sekadar publisitas, tapi bentuk akuntabilitas publik: transparansi sebagai fondasi kepercayaan.
Dengan jaringan yang menyentuh hampir seluruh pelosok nusantara, Telkomsel memilih peran sebagai katalisator—bukan penyelamat tunggal. Ia ingin menginspirasi, menggerakkan, dan mengajak seluruh pemangku kepentingan: dari pelanggan, mitra, hingga komunitas pulau-pulau kecil yang paling rentan.
Di tengah lautan ancaman, satu hal jelas: pulau-pulau yang hilang tak akan kembali. Tapi jika aksi dimulai sekarang—dengan keberanian, teknologi, dan kesadaran kolektif—masih ada harapan untuk menyelamatkan yang tersisa.

















