Oleh: Alimuddin (Pegiat Lingkungan Kecamatan Maluk)
Ada pemandangan yang agak lucu dalam urusan sampah. Konsumen diminta membawa tas belanja sendiri. Kantong plastik dikurangi. Poster-poster tentang lingkungan dipasang dengan kalimat yang terdengar begitu mulia.
“Kurangi plastik.”
“Jaga lingkungan.”
“Bawa tas belanja sendiri.”
Bagus. Sangat bagus.
Tapi ada satu hal yang kadang tidak ikut dipajang di depan toko: bagaimana toko itu sendiri mengelola sampah yang dihasilkannya.
Jangan-jangan kita sedang mengajari konsumen untuk menjadi lebih ramah lingkungan, sementara tempat kita mengajarinya justru masih sibuk mencampur sampah di belakang toko.
Ini bukan cerita yang dibuat-buat.
Dalam pengambilan sampel timbulan sampah yang dilakukan Kuli Farm selama delapan hari di Kecamatan Maluk, sektor ritel menjadi salah satu sumber yang diamati.
Di salah satu gerai ritel, misalnya, ditemukan sampah plastik dan organik masih tercampur dan belum dipisahkan dari sumbernya.
Di sinilah ironi itu muncul.
Konsumen diminta mengurangi satu kantong plastik.
Tetapi di belakang toko, berbagai jenis sampah bisa saja bertemu dalam satu wadah.
Plastik bertemu sisa makanan.
Kardus bertemu sampah organik.
Kemasan bertemu residu.
Semuanya kemudian diangkut bersama-sama.
Mungkin sampah memang tidak pernah protes ketika dicampur.
Ia tidak punya suara.
Ia tidak bisa mengadu.
Ia hanya menunggu diangkut.
Dan ketika sudah sampai di TPA, barulah kita semua berpura-pura tidak tahu dari mana masalah itu bermula.
Betapa praktisnya.
Kita meminta masyarakat memilah dari rumah, tetapi pelaku usaha belum tentu melakukan hal yang sama.
Kita meminta warga mengurangi sampah, tetapi ketika aktivitas ekonomi menghasilkan berton-ton kemasan, kardus, plastik dan material lainnya, persoalannya sering dianggap selesai setelah sampah masuk ke dalam tempat sampah.
Padahal tempat sampah bukan mesin penghilang dosa lingkungan.
Memasukkan sampah ke tong tidak berarti persoalannya selesai.
Ia hanya membuat sampah tidak terlihat oleh mata kita.
Setelah itu, masalahnya berpindah.
Dari toko ke kendaraan pengangkut.
Dari kendaraan ke TPS.
Dari TPS ke TPA.
Dan akhirnya, masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan pembuangan ikut menanggung akibatnya.
Sampahnya milik kita bersama, tetapi jangan sampai tanggung jawabnya menjadi milik orang lain.
Pelaku usaha tentu memiliki hak untuk mencari keuntungan. Tidak ada yang salah dengan itu.
Tetapi setiap keuntungan seharusnya juga datang bersama tanggung jawab.
Kalau setiap hari kita menjual barang kepada masyarakat, menerima barang dari distributor, membuka kardus, membongkar plastik pembungkus, menggunakan berbagai material dan menghasilkan sampah, maka bukankah wajar jika pengelolaan sampah menjadi bagian dari biaya dan tanggung jawab usaha?
Jangan hanya menghitung omzet.
Sesekali hitung juga berapa kilogram sampah yang dihasilkan.
Jangan hanya menghitung jumlah barang yang terjual.
Hitung pula berapa banyak kemasan yang akhirnya menjadi beban lingkungan.
Sebab lingkungan tidak mengenal istilah “sampah toko” dan “sampah konsumen”.
Yang lingkungan kenal hanya satu: sampah.
Dan ketika sampah itu bercampur, alam tidak peduli siapa yang menghasilkan lebih banyak.
Karena itu, kalau kita benar-benar ingin berbicara tentang pengurangan sampah, jangan berhenti pada kantong plastik di depan kasir.
Mari kita lihat juga apa yang terjadi di belakang kasir.
Apakah sampah sudah dipilah?
Apakah organik dikelola?
Apakah kardus dan plastik bernilai dikumpulkan?
Apakah hanya residu yang dikirim ke TPA?
Atau semuanya dimasukkan ke dalam satu tempat, lalu persoalan diserahkan kepada petugas pengangkut?
Kalau yang terakhir yang terjadi, mungkin kita perlu bertanya:
Apakah kita sedang mengelola sampah, atau sekadar memindahkan sampah?
Di sinilah pemerintah dan dinas terkait juga tidak boleh hanya menjadi penonton.
Edukasi penting.
Pembinaan penting.
Pendampingan penting.
Tetapi pengawasan juga penting.














