Sumbawanews.com,- Setelah kekalahan 0-2 dari Hull City di pekan pertama Liga Inggris, Sabtu (22/8), legenda Manchester United Paul Scholes memberikan kritik tajam terhadap kapten Bruno Fernandes dan Luke Shaw. Kekalahan itu terjadi di Stadion MKM, akibat dua gol yang lahir dari situasi bola mati di babak pertama—menyakitkan mengingat Hull adalah tim promosi yang diprediksi bakal terdegradasi.
Fernandes, dalam wawancara dengan media, mengakui timnya terlalu pasif, membiarkan lawan menguasai bola, dan gagal melakukan pressing tinggi. Ia juga menyalahkan pertahanan saat bola mati sebagai penyebab kebobolan. Namun Scholes menanggapi dengan keras: “Saya ingin tahu apa maksudnya. Kesalahan apa yang mereka lakukan? Apalagi mengingat performanya sendiri di laga itu. Menurut saya sebaiknya dia diam saja. Dia juga tidak tampil maksimal.” Scholes menilai kritik Fernandes tidak pantas diberikan saat dirinya sendiri tidak tampil optimal.
Scholes juga menyerang pernyataan Luke Shaw yang menyalahkan persiapan tim atas dua gol tersebut. Menurutnya, komentar Shaw adalah bentuk ketidakhormatan terhadap pelatih Michael Carrick. “Jika ada pemain yang bicara begitu, Anda pasti akan berpikir ‘sialan’, dan Anda akan memanggil mereka untuk menghadap pada Senin pagi,” ujar Scholes. Ia membandingkan sikap pemain masa kini dengan era keemasan Man United di bawah Sir Alex Ferguson, di mana pemain tak berani menyalahkan pelatih—bahkan sekadar mengatakan “kami tidak siap” bisa berakibat hukuman berat.
Dukungan datang dari legenda Premier League Dion Dublin, yang menilai Carrick harus segera memutus ikatan personal dengan para pemain. “Tantangan terberat adalah setelah Carrick diangkat sebagai pelatih tetap dan dia harus memutus ikatan itu,” kata Dublin. “Sekarang dia seorang pelatih dan harus berhenti bersikap seperti, ‘apa kabar, kawan’, ‘bagaimana kabarmu, sobat’, atau ‘mau minum bir bareng?’.” Dublin menekankan, kini hubungan harus jelas: “Saya pelatih dan kamu pemain. Lakukan saja apa yang diinstruksikan.”
Man United kini terpuruk di peringkat ke-16 klasemen Premier League, dan kekalahan ini menjadi titik balik krusial bagi Carrick untuk membangun kembali disiplin, otoritas, dan identitas tim yang hilang.















