Sumbawanews.com,- Jakarta – Real Madrid tengah mempersiapkan langkah strategis untuk mengembalikan gelandang muda Nico Paz ke Santiago Bernabéu, bukan untuk menahannya, melainkan untuk segera menjualnya dengan keuntungan besar. Klub raksasa Spanyol itu berencana mengaktifkan klausul buy-back yang telah disepakati saat Paz dilepas ke Como pada 2024, dengan membayar sekitar 9 juta euro (Rp183 miliar).
Paz, yang kini berusia 21 tahun, telah menunjukkan performa menjanjikan di Serie A musim lalu. Dalam 35 penampilan bersama Como, ia mencatatkan 12 gol dan tujuh assist, menjadi salah satu pemain muda paling menonjol di liga Italia. Kinerjanya menarik minat sejumlah klub top Eropa, termasuk Inter Milan, yang dikabarkan tertarik merekrutnya secara permanen.
Namun, Real Madrid tidak berniat memasukkan Paz ke dalam rencana jangka panjang tim utama. Sebaliknya, mereka mematok harga jual sebesar 60 juta euro (Rp1,2 triliun) bagi klub yang ingin memboyongnya—angka yang jauh melampaui nilai investasi awal mereka. Klausul buy-back yang berlaku hingga musim panas 2027 memberi Madrid kendali penuh atas masa depan sang pemain, meski kontrak Paz dengan Como masih berlaku hingga 2028.
Strategi ini bukan sekadar transaksi keuangan, tapi bagian dari filosofi klub: memanfaatkan akademi sebagai pabrik pemain berpotensi tinggi, lalu menjualnya dengan margin keuntungan optimal setelah dikembangkan. Paz, yang lahir di Argentina dan dibesarkan di akademi Real Madrid, menjadi contoh nyata dari model bisnis ini.
Como, yang sangat mengandalkan kontribusi Paz di lini tengah, mengakui kekhawatiran atas kemungkinan kehilangan bintangnya. Pelatih mereka, Cesc Fàbregas, sebelumnya menyatakan harapannya agar Paz tetap bertahan, menilai bahwa pengalaman di Serie A masih penting bagi perkembangannya. Namun, dengan tawaran sebesar itu, keputusan akhir berada di tangan Madrid—dan kemungkinan besar, Paz akan kembali ke ibu kota Spanyol hanya untuk segera berpindah lagi.
Klub-klub Eropa kini tengah mempertimbangkan apakah akan membayar harga yang ditetapkan Madrid, atau menunggu hingga klausul buy-back berakhir. Bagi Real Madrid, ini bukan soal kepemilikan—tapi soal keuntungan, kontrol, dan strategi jangka panjang yang tak pernah berubah.















