Sumbawanews.com,- Timnas Prancis, di bawah asuhan Didier Deschamps, mengubah filosofi permainan mereka di Piala Dunia 2026 dengan memanfaatkan kedalaman lini serang yang luar biasa, meski penyerang utama tidak mencetak gol—mirip dengan pola sukses di Piala Dunia 1998 dan 2018. Di babak 32 besar, Les Bleus menang telak 3-0 atas Swedia di East Rutherford, New Jersey, pada 30 Juni 2026, dengan gol-gol datang dari Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, dan Michael Olise, sementara Olivier Giroud—yang diharapkan menjadi ujung tombak—tetap tanpa gol sepanjang turnamen hingga tahap ini.
Kedalaman serangan Prancis kini menjadi kekuatan utama: selain Mbappé dan Dembélé, nama-nama seperti Olise, Desire Doue, dan Bradley Barcola memberi Deschamps opsi tak terbatas di depan. Dengan 10 gol dicetak di fase grup—bersama Belanda dan Jerman—Prancis menjadi satu-satunya tim dari tiga raksasa itu yang mampu melangkah tanpa kehilangan momentum, sementara lawan-lawannya tersingkir lewat adu penalti. Ini memperkuat tren historis: Prancis justru paling sulit dihentikan ketika striker utama tidak mencatatkan namanya di papan skor.
Pola ini pernah terjadi pada Piala Dunia 1998, ketika Stephane Guivarc’h gagal mencetak gol, namun Prancis tetap menjadi juara. Di 2018, Olivier Giroud pun tak mencetak gol, tetapi Les Bleus kembali mengangkat trofi. Deschamps kini memilih untuk tidak mengandalkan satu titik fokus serangan, melainkan membangun sistem yang dinamis, di mana setiap pemain bisa menjadi ancaman. Pendekatan ini bukan lagi soal kekuatan individu, tapi kekuatan kolektif yang sulit diprediksi.
Dengan keberadaan lima penyerang berkualitas dunia di skuad, Deschamps memilih untuk mengorbankan kekakuan taktis demi kecepatan, ruang, dan variasi. Ini adalah perubahan signifikan dari gaya Prancis di era 2018 yang lebih terstruktur dan bertahan. Kini, tim Ayam Jantan bermain seperti tim yang tak punya batas—serang dari sisi mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Jika tren ini terus berlanjut, Prancis bukan hanya menjadi favorit, tapi bisa menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang meraih gelar ketiga dengan tidak satu pun gol dari striker utama.















