Sumbawanews.com,- Setelah Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 1-0 atas Argentina di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli 2026, gelandang tim nasional Pedri menjalankan tradisi pribadi yang sarat makna: mengeksekusi penalti ke gawang ayahnya, Fernando Gonzalez. Ritual ini, yang telah ia lakukan setiap kali meraih trofi besar, berlangsung di tengah kegembiraan perayaan tim dan keluarga, dengan Fernando berdiri sebagai kiper sementara.
Sebelum eksekusi, Pedri mengatakan yakin ayahnya akan mampu membaca arah tendangannya. “Dia pasti bisa menepisnya. Dia selalu melakukannya,” ujarnya. Benar saja, Pedri memilih tendangan Panenka ke sisi kiri gawang—dan Fernando, mantan kiper semiprofesional yang pernah mengejar mimpi di lapangan, berhasil menggagalkannya. Aksi itu memicu tawa dan decak kagum dari para saksi mata, termasuk rekan-rekan satu tim dan kerabat.
Fernando Gonzalez, yang harus meninggalkan karier sepak bola karena tanggung jawab keluarga, kini menjadi saksi diam-diam dari keberhasilan putranya. Setiap trofi yang diraih Pedri—baik di level klub maupun internasional—selalu dirayakan dengan ritual ini, sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan sang ayah yang rutin mengantar dan mendampinginya sejak masa kecil.
Momen itu bukan sekadar hiburan, tapi simbol ikatan batin yang tak ternilai: seorang putra yang mengingat jasa ayahnya, dan seorang ayah yang, meski tak lagi bermain, tetap merasakan denyut nadi sepak bola lewat tendangan penalti di bawah mistar. Di tengah euforia juara dunia, tradisi sederhana ini menjadi salah satu cerita paling manusiawi dari Piala Dunia 2026.















