Home Berita Olah Raga Neymar Menangis di Lapangan Usai Kembali ke Piala Dunia, Usai Sindiran Lula

Neymar Menangis di Lapangan Usai Kembali ke Piala Dunia, Usai Sindiran Lula

Sumbawanews.com,- Kemenangan 3-0 Brasil atas Skotlandia di Stadion MetLife, New Jersey, pada Kamis, 25 Juni 2026, bukan sekadar jaminan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Bagi Neymar, momen itu adalah puncak perjalanan emosional yang melelahkan—sebuah kebangkitan dari bayang-bayang cedera, keraguan, dan sindiran publik.

Selama 981 hari, sang legenda tak mengenakan jersey tim nasional. Cedera lutut parah yang ia derita pada Oktober 2023 hampir mengakhiri kariernya di level tertinggi. Operasi demi operasi, rehabilitasi yang penuh gejolak, dan masa-masa di mana ia bahkan tak yakin akan bisa bermain lagi—semua itu ia lewati sendirian. Hingga akhirnya, pelatih Carlo Ancelotti memutuskan: saatnya Neymar kembali.

Kembalinya sang bintang di laga melawan Skotlandia bukan hanya soal teknik atau kecepatan. Ini adalah simbol ketahanan. Di tengah hujan sorak penonton, Neymar bermain 78 menit dengan penuh gairah—mengalirkan permainan, mengancam pertahanan lawan, dan menjadi jantung serangan Brasil. Ketika wasit meniup peluit panjang, ia langsung berlari ke tribun, mencari sosok yang paling ia cintai: ayahnya.

Di sana, seorang pria tua menangis. Dan Neymar, pemain yang selama ini dianggap terlalu berlebihan oleh kritikus, pun menangis—tak bisa menahan air mata.

Semua itu bermula dari sebuah candaan yang viral.

Hanya beberapa hari sebelum laga, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, dalam sebuah acara di Belo Horizonte, ditanya oleh seorang anak kecil tentang siapa pemain terbaik Brasil saat ini. Jawaban Lula membuat ribuan orang tertawa—dan sekaligus merenung.

“Neymar? Dia bahkan tidak bermain. Dia pemain tim nasional pertama yang bekerja dari rumah,” ujar Lula, disertai tawa riang. Sindiran itu, meski bernada humor, menusuk. Di media sosial, ribuan komentar mempertanyakan apakah Neymar masih layak disebut “simbol Brasil.”

Tapi di lapangan, Neymar menjawab dengan cara terbaik: dengan permainan, dengan dedikasi, dan dengan air mata.

“Perasaan ini tak bisa dijelaskan,” katanya usai laga, suaranya bergetar. “Saat saya lihat ayah saya menangis, saya tahu semua penderitaan ini layak. Saya melewati masa tersulit dalam hidup. Tapi tujuan saya selalu sama: kembali ke tim nasional. Dan bermain di Piala Dunia.”

Brasil menang 3-0. Vinícius Jr. mencetak gol, Richarlison menambahkan dua, dan Neymar—meski tak mencetak—menjadi magnet yang menarik perhatian lawan, membuka ruang bagi rekan-rekannya. Tapi yang paling menggetarkan bukan skor, bukan gol, bukan pula kemenangan. Itu adalah seorang pria berusia 34 tahun yang, setelah hampir kehilangan segalanya, kembali ke panggung terbesar—dan menangis bukan karena kemenangan, tapi karena ia masih punya alasan untuk berjuang.

Dan di mata dunia, ia bukan lagi sekadar bintang. Ia adalah simbol ketahanan.

Previous articleHuawei Luncurkan MatePad Mini, Tablet Ringan untuk Mobilitas Tinggi
Next articleSekolah Rakyat Siap Dibuka, MPLS 2026 Digelar Serentak 14 Juli