Sumbawanews.com,- Persita Tangerang resmi melepas kapten sekaligus ikon klub, Muhammad Toha, setelah sembilan tahun setia mengenakan jersey ungu. Pemain berusia 29 tahun itu mengakhiri masa keemasannya di Stadion Indomilk Arena pada akhir musim 2025-2026, meninggalkan jejak yang tak tergantikan sebagai pemain paling konsisten, pemimpin ruang ganti, dan simbol loyalitas di tubuh klub legendaris asal Tangerang.
Toha bergabung pada 2017, saat Persita masih berjuang di kasta kedua, dan menjadi saksi bisu sekaligus arsitek bangkitnya tim dari jurang degradasi menuju puncak kompetisi. Dalam sembilan tahun itu, ia tampil dalam 200 pertandingan resmi—29 dari 30 laga di Super League 2025-2026 ia mainkan, 27 di antaranya sebagai starter. Bukan hanya statistik yang mengesankan, tapi konsistensi, disiplin, dan kepemimpinan yang ia tanamkan di setiap laga.
Di lapangan, Toha bukan sekadar bek kanan yang tangguh dalam tackle dan intersep. Ia adalah jangkar mental tim—tenang di bawah tekanan, tegas dalam komunikasi, dan selalu menjadi teladan bagi pemain muda. Di ruang ganti, ia dikenal sebagai sosok yang merangkul, mengingatkan, dan menginspirasi tanpa perlu berteriak. Manajemen Persita pun mengakui, kepergiannya bukan sekadar kehilangan pemain, tapi kehilangan simbol nilai-nilai klub.
“Saya ingin mencari tantangan baru, tapi saya tidak akan pernah meninggalkan prinsip yang saya pegang selama ini: profesionalisme, kerja keras, dan menjadi contoh,” ujar Toha dalam pernyataan resmi di laman I.League, Sabtu (27/6/2026). Ia menegaskan, meski meninggalkan Persita, ia tetap akan menjaga sikap dan gaya hidup yang telah dibangun selama bertahun-tahun di klub ini.
Toha juga tak lupa menyampaikan terima kasih kepada para suporter yang selalu mendukungnya—baik saat tim menang maupun saat terpuruk. “Mereka adalah nyawa Persita. Tanpa mereka, kami hanyalah sekelompok pemain. Saya akan selalu menjadi bagian dari keluarga Persita, di mana pun saya berada.”
Kehilangan Toha menjadi pukulan besar bagi Persita yang tengah membangun generasi baru. Ia bukan hanya pemain dengan kapten di dada, tapi sosok yang menjadi jembatan antara masa lalu yang penuh perjuangan dan masa depan yang masih menanti arah. Kini, tugas berat jatuh ke pundak manajemen dan para pemain muda: menemukan pengganti yang tak hanya mampu mengisi posisi di lapangan, tapi juga mewarisi semangat yang ia tanamkan selama sembilan tahun.
Persita belum mengumumkan rencana pengganti kapten, tapi satu hal pasti: jejak Muhammad Toha akan terukir abadi di dinding sejarah klub—bukan hanya sebagai pemain, tapi sebagai legenda yang membuktikan bahwa kesetiaan masih bisa hidup di era sepak bola modern.















