Sumbawanews.com,- Persaingan merebut Sepatu Emas Piala Dunia 2026 kian memanas setelah fase grup usai. Dengan format baru yang melibatkan 48 tim dan lebih banyak laga, peluang mencetak gol meningkat signifikan—membuka jalan bagi para penyerang top untuk bersaing ketat di puncak daftar pencetak gol terbanyak. Di tengah gelombang gol yang membanjiri lapangan, Lionel Messi kembali menjadi sorotan utama, meski bukan sebagai pencetak gol terbanyak, tetapi sebagai simbol ketajaman yang tak tergantikan.
Messi, yang kini berusia 39 tahun dan masih memakai jersey timnas Argentina, mencatatkan dua gol dalam dua laga fase grup. Meski angka itu belum menempatkannya di puncak klasemen, pengaruhnya di lapangan—dari umpan kunci hingga kemampuan mengatur ritme serangan—menjadikannya kandidat paling berpeluang meraih gelar ini. Di usia yang seharusnya memasuki masa pensiun, ia membuktikan bahwa kejeniusan teknis dan intuisi golnya masih setajam dulu.
Di belakangnya, tiga nama muda yang menggemparkan turnamen: Erling Haaland, Kylian Mbappé, dan Vinicius Junior. Ketiganya sama-sama mengoleksi empat gol hingga kini. Haaland, penyerang Norwegia yang dikenal sebagai mesin gol, menunjukkan konsistensi luar biasa dengan dua gol dalam laga melawan Denmark dan dua lagi saat menghancurkan Islandia. Mbappé, kapten Prancis, menunjukkan kecepatan mematikan dan ketajaman di ujung serangan, termasuk gol penentu kemenangan 3-1 atas Australia. Sementara Vinicius Junior dari Brasil, dengan kecepatan dan dribbling yang memukau, menjadi ujung tombak tim Samba yang tampil sangat agresif—empat golnya menjadi bukti bahwa ia kini bukan sekadar pemain sayap, tapi ancaman nyata bagi setiap pertahanan.
Tak ketinggalan, Harry Kane dari Inggris tetap menjadi andalan. Dua golnya di laga awal melawan Iran dan Ghana membuatnya tetap dalam posisi aman di lima besar, meski performa timnya sempat terhambat. Di sisi lain, Deniz Undav dari Jerman menjadi kejutan terbesar: hanya bermain 135 menit, tetapi mencetak tiga gol dan dua assist, membuatnya menjadi kandidat paling tidak terduga yang patut diwaspadai.
Spanyol, tim yang tampil dominan, memiliki dua wakil di daftar ini: Lamine Yamal, bintang berusia 17 tahun yang baru mencatat satu gol, tetapi menjadi otak serangan tim, dan Mikel Oyarzabal yang bangkit setelah laga pembuka yang redup. Keduanya menunjukkan bahwa generasi muda Spanyol siap mengambil estafet dari para legenda.
Cristiano Ronaldo, meski mencetak dua gol dalam kemenangan 5-0 atas Uzbekistan, kini berada di ambang akhir karier internasionalnya. Ia masih berada di daftar, tetapi tidak lagi menjadi ancaman utama. Kritik terhadap performanya yang menurun—termasuk dicoret dari tim terbaik turnamen oleh media—menjadi tanda bahwa era Ronaldo di Piala Dunia hampir berakhir.
Dengan babak 32 besar segera dimulai, setiap gol menjadi berharga. Tim-tim besar seperti Brasil, Prancis, dan Spanyol memiliki peluang lebih besar untuk melangkah jauh, sehingga para pencetak gol mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk menambah koleksi. Namun, dalam sepak bola, keajaiban bisa datang dari mana saja—seperti yang ditunjukkan oleh Deniz Undav atau Lamine Yamal.
Perebutan Sepatu Emas 2026 bukan sekadar soal jumlah gol. Ini adalah pertarungan antara legenda yang menolak pensiun, bintang muda yang menuntut takhta, dan keajaiban yang lahir dari ketidakmungkinan. Dan di tengah semua itu, Messi tetap menjadi simbol: bukan karena ia paling banyak mencetak gol, tetapi karena ia masih bisa membuat dunia berhenti sejenak untuk menontonnya bermain.















